JAKARTAHYPE.COM - Kabar gembira datang dari kawasan konservasi di Aceh, menandai keberhasilan upaya perlindungan satwa liar di wilayah tersebut. Momen spesial ini terjadi ketika tim monitoring berhasil mengamati kelahiran baru di tengah rimbunnya pepohonan hutan.

Peristiwa penting ini terkonfirmasi terjadi pada tanggal 22 Mei 2026, ketika tim pengawas menemukan induk orangutan yang bergerak aktif. Mereka melihat Bulan, sang induk, sedang menggendong bayi mungilnya dengan penuh kasih sayang di tajuk hutan.

Saat terpantau, Bulan menunjukkan perilaku yang sangat protektif terhadap anaknya yang baru lahir. Sang bayi tampak tidak mau sedikit pun melepaskan dekapan erat dari induknya, menunjukkan ikatan kuat antara keduanya.

Bayi orangutan yang baru lahir tersebut diketahui berjenis kelamin jantan dan diperkirakan baru berusia sekitar satu bulan. Berdasarkan pengamatan awal, kondisi kesehatan bayi yang telah diberi nama Badar tersebut dilaporkan dalam keadaan baik dan sehat.

Kisah Bulan, sang induk, menambah nilai emosional dari penemuan ini, mengingat latar belakangnya yang penuh perjuangan. Bulan merupakan orangutan yang berhasil diselamatkan dari praktik perdagangan satwa liar yang terjadi di Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara.

Saat pertama kali ditemukan dan diselamatkan pada tahun 2014, Bulan diketahui masih berusia sekitar dua tahun. Setelah proses penyelamatan tersebut, Bulan menjalani masa rehabilitasi yang cukup panjang untuk memulihkan kondisi fisiknya.

Bulan menjalani rehabilitasi selama empat tahun penuh di Pusat Karantina dan Rehabilitasi orangutan YEL-SOCP Sibolangit. Proses panjang ini bertujuan mempersiapkan Bulan agar mampu bertahan hidup kembali di alam liar secara mandiri.

Setelah dinyatakan siap, Bulan kemudian dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya pada tahun 2018. Pelepasan tersebut dilakukan di kawasan Pusat Reintroduksi orangutan yang berada di CA Jantho sebagai langkah akhir restorasi kehidupannya.

Kelahiran Badar ini menjadi indikasi positif bahwa upaya konservasi dan rehabilitasi yang selama ini dilakukan telah membuahkan hasil nyata. Hal ini membuktikan bahwa hutan Aceh masih menyimpan harapan besar bagi kelangsungan hidup spesies langka tersebut.