JAKARTAHYPE.COM - Sebuah penemuan signifikan telah dilakukan oleh para ilmuwan mengenai struktur geologi di bawah Pulau Sulawesi yang berpotensi menimbulkan ancaman kebencanaan hidrometeorologi besar di masa mendatang. Penemuan ini berfokus pada identifikasi sebuah patahan raksasa yang membentang di kedalaman laut dan terhubung langsung dengan garis pantai.
Penemuan ini secara spesifik diungkap melalui analisis sinyal sensor oleh Tang Tingwei dari Institute of Geology and Geophysics di Chinese Academy of Science. Temuan ini memberikan perspektif baru mengenai mekanisme bencana gempa bumi dan tsunami yang pernah melanda wilayah tersebut beberapa tahun lalu.
Patahan yang dimaksud dikenal dengan nama Palu-Koro, yang ternyata membentang hingga dasar samudra dan secara fisik membelah lapisan kerak Bumi di bawah laut. Identifikasi ini mengindikasikan bahwa patahan di wilayah pesisir Sulawesi terhubung erat dengan sistem sesar yang lebih luas di lautan.
Keterhubungan ini sangat krusial karena pergerakan pada sistem sesar bawah laut tersebut memiliki kapasitas untuk mengguncang sistem tektonik yang lebih besar, yang pada akhirnya dapat memicu gelombang tsunami dahsyat.
Secara struktural, di bawah Laut Sulawesi, terdapat perbedaan ketebalan kerak Bumi yang mencolok; hanya sekitar 8 kilometer, kontras dengan area sekitarnya yang mencapai ketebalan 26 kilometer. Semakin ke utara, kedalaman kerak bumi ini bertambah hingga mencapai 30 kilometer.
Perbedaan ketebalan ini mengindikasikan bahwa patahan Palu-Koro berfungsi sebagai semacam "penyambung" antara beberapa segmen sesar yang berbeda sifatnya. Satu sisi dicirikan oleh dasar laut yang tipis, sementara sisi lainnya menyerupai sesar benua dengan kerak yang lebih tebal.
"Perbedaan ini penting karena 'tekanan' tektonik biasanya akan terfokus pada area gesekan antara dua jenis kerak bumi yang memiliki ketebalan berbeda tersebut," ujar Tang Tingwei.
Gempa bumi yang menghantam Palu pada September 2018 telah menghasilkan tsunami dengan ketinggian gelombang hampir mencapai 11 meter di pesisir barat Sulawesi. Ketinggian tsunami di Palu saat itu dianggap berada di luar prediksi standar.
Hal ini disebabkan oleh pergerakan patahan yang umumnya bersifat menyamping, yang seharusnya hanya mengangkat air dalam volume yang jauh lebih kecil. Temuan patahan baru ini memberikan penjelasan mendalam mengenai anomali tsunami Palu tersebut.