JAKARTAHYPE.COM - Penurunan ketinggian muka air Danau Toba, sebuah keajaiban alam vulkanik terbesar di dunia, ternyata menyimpan cerita yang lebih kompleks dari perkiraan sebelumnya. Dinamika permukaan airnya kini dipengaruhi oleh kombinasi faktor, bukan hanya perubahan iklim global semata.

Temuan penting ini datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui sebuah penelitian mendalam yang menyoroti peran ganda dari perubahan lingkungan serta aktivitas manusia di sekitar kawasan Danau Toba.

Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Hendri, menjadi pemimpin dalam analisis data historis mengenai tinggi muka air Danau Toba. Data yang dikumpulkan mencakup rentang waktu yang sangat panjang, yaitu dari tahun 1957 hingga 2020.

Analisis ini mengindikasikan adanya pergeseran signifikan dalam faktor-faktor yang memengaruhi ketinggian air danau dari dekade ke dekade. Hal ini mencerminkan perubahan kondisi lingkungan dan intensitas aktivitas yang terjadi di sekitar ekosistem unik ini.

"Faktor-faktor penyebab penurunan muka air telah mengalami pergeseran dari waktu ke waktu, mencerminkan perubahan kondisi lingkungan dan aktivitas di sekitar danau," ujar Hendri.

Penelitian ini secara khusus menyoroti bagaimana aktivitas manusia telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap fluktuasi muka air di danau super vulkanik yang menjadi ikon pariwisata Sumatera Utara ini.

Dikutip dari TREN.BISNISMARKET.COM, riset ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tantangan yang dihadapi dalam menjaga kelestarian Danau Toba.

Perubahan pola curah hujan akibat dinamika iklim global menjadi salah satu faktor utama yang terus diamati. Namun, kehadiran dan dampak aktivitas manusia kini menjadi elemen krusial yang tak bisa diabaikan.

Data yang diolah oleh tim peneliti BRIN ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah yang kuat untuk merumuskan strategi pengelolaan Danau Toba yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan.