JAKARTAHYPE.COM - Sabun merupakan komponen esensial dalam rutinitas kebersihan diri untuk menjaga kondisi kulit tetap bersih. Di pasar Indonesia, konsumen dihadapkan pada dua pilihan utama, yaitu sabun batang tradisional dan sabun cair modern. Kedua jenis sabun ini menawarkan fungsi pembersihan yang sama, namun formulasi dan cara kerjanya menunjukkan perbedaan signifikan.
Perbedaan mendasar dalam kedua produk ini dimulai dari tahapan pembuatannya. Gabrielle Nekrasas, seorang ahli kimia kosmetik asal Amerika Serikat yang juga merupakan pendiri dan CEO Nanuvo Lab, menjelaskan proses pembuatan sabun batang.
"Sabun batang dibuat melalui proses kaustik atau penambahan minyak dan lilin serta alkali," jelas Gabrielle Nekrasas.
Nekrasas menambahkan bahwa campuran bahan-bahan tersebut memerlukan waktu pematangan sekitar enam hingga delapan minggu agar reaksi kimia berjalan sempurna dan komponen tertentu dapat menguap. Proses ini berbeda total dengan produksi sabun cair yang melibatkan kandungan air.
Karena mengandung lebih banyak air, tekstur sabun cair cenderung lebih lembut dan memiliki potensi lebih kecil menyebabkan kulit terasa kering pasca pemakaian. Hal ini dikonfirmasi oleh Dr. Hayley Goldbach, dokter spesialis kulit dan ahli bedah kulit bersertifikat dari Rhode Island.
Dr. Goldbach mengemukakan bahwa kandungan air dalam formulasi sabun cair memungkinkan produsen untuk menyertakan beragam bahan aktif tambahan. Bahan-bahan tersebut meliputi minyak alami, ekstrak tumbuhan, pelembap, hingga eksfoliator yang ditujukan untuk mengatasi isu kulit spesifik.
Keunggulan signifikan dari sabun batang adalah formulanya yang minim atau bahkan tidak mengandung air sama sekali. Dikutip dari Byrdie, kondisi ini secara drastis mengurangi potensi berkembang biaknya bakteri selama produk disimpan dengan cara yang tepat.
Faktor minimnya air membuat sabun batang umumnya tidak memerlukan penambahan bahan pengawet kimia dalam jumlah besar. Selain itu, sabun batang sering kali dianggap lebih ramah lingkungan karena kemasannya yang umumnya hanya menggunakan kertas atau karton, sehingga mengurangi sampah plastik.
Namun, sabun batang memiliki karakteristik pH yang cenderung tinggi, berkisar antara 9 hingga 10. Menurut Nekrasas, tingkat pH ini merupakan konsekuensi dari metode pembuatannya dan sulit untuk dimodifikasi oleh produsen.