JAKARTAHYPE.COM - Mengumandangkan takbir adalah salah satu ritual agung yang menghiasi perayaan hari kemenangan umat Islam, baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Meskipun kalimat yang diucapkan cenderung sama, terdapat perbedaan signifikan dalam tata cara pelaksanaan kedua hari raya besar tersebut menurut tinjauan ilmu fikih.
Perbedaan mendasar ini mencakup aturan waktu pelaksanaan serta durasi kumandang takbir yang diatur secara spesifik dalam kaidah Islam. Pemahaman yang tepat mengenai diskrepansi ini sangat penting agar ibadah yang dijalankan umat Muslim selaras dengan tuntunan Rasulullah SAW.
Dilansir dari Suara, aturan mengenai batasan waktu dan klasifikasi fikih takbiran Idul Adha dan Idul Fitri telah dijelaskan berdasarkan keterangan resmi dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag). Sebelum membahas perbedaan, perlu dipahami dua klasifikasi utama takbir dalam hukum Islam, yaitu takbir mursal dan takbir muqayyad.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
Takbir mursal didefinisikan sebagai pembacaan takbir yang tidak terikat oleh waktu salat tertentu, sehingga dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja oleh umat Muslim. Sebaliknya, takbir muqayyad adalah jenis takbir yang pelaksanaannya terikat secara khusus setelah menunaikan salat, baik salat fardu maupun salat sunah.
"Berdasarkan ulasan literatur Nahdlatul Ulama (NU Online), terdapat poin-poin mendasar yang membedakan kumandang takbir pada kedua hari raya tersebut," demikian dijelaskan dalam teks sumber. Poin-poin ini menyangkut jenis takbir yang berlaku, waktu awal, hingga kapan takbiran harus diakhiri.
Untuk Idul Fitri, hanya jenis takbir mursal yang diterapkan, memungkinkan masyarakat mengumandangkannya dengan bebas di masjid, rumah, atau dalam perjalanan menjelang 1 Syawal. Ini menunjukkan fleksibilitas dalam perayaan hari raya fitrah tersebut.
Kondisi berbeda terjadi pada Idul Adha, di mana kedua jenis takbir, yakni mursal dan muqayyad, diterapkan secara simultan. Oleh karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk terus membaca takbir setiap kali selesai menunaikan salat sepanjang hari raya dan hari-hari tasyrik.
Perbedaan krusial kedua terletak pada momentum dimulainya gema takbir. "Gema takbir Idul Fitri dimulai sejak matahari terbenam pada malam satu Syawal atau bertepatan dengan masuknya waktu magrib di malam takbiran," demikian keterangan mengenai Idul Fitri.
Sementara itu, untuk Idul Adha, takbir muqayyad sudah dianjurkan sejak waktu subuh pada hari Arafah, yakni 9 Dzulhijjah. Hal ini menyebabkan kumandang takbir Idul Adha sudah mulai terdengar sebelum hari penyembelihan kurban tiba.