JAKARTAHYPE.COM - Masyarakat umum kerap meyakini bahwa penentuan jenis kelamin bayi merupakan proses yang sepenuhnya acak, menyerupai lemparan koin dengan probabilitas 50:50 antara laki-laki dan perempuan. Namun, anggapan ini mulai dipertanyakan menyusul munculnya temuan ilmiah terbaru dari para ahli di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

Studi signifikan yang dipublikasikan pada Juli 2025 dalam jurnal Science Advances ini mengindikasikan adanya "bias biologis" yang menyebabkan beberapa keluarga secara konsisten memiliki kecenderungan melahirkan anak dengan jenis kelamin yang sama secara beruntun. Temuan ini menantang pemahaman konvensional mengenai reproduksi manusia.

Para peneliti melakukan analisis mendalam terhadap data yang melibatkan lebih dari 146.000 kehamilan dari sekitar 58.000 ibu di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi keluarga yang hanya memiliki anak laki-laki atau hanya anak perempuan jauh lebih tinggi dibandingkan prediksi probabilitas acak murni.

Jorge Chavarro, Profesor Nutrisi dan Epidemiologi serta penulis senior studi tersebut, menjelaskan implikasi temuan ini bagi ekspektasi orang tua. "Jika Anda sudah punya dua atau tiga anak perempuan dan berharap mendapat anak laki-laki, ketahuilah bahwa peluangnya bukan 50:50. Anda justru lebih mungki mendapat anak perempuan lagi," ungkap Profesor Chavarro.

Penelitian tersebut berhasil mengidentifikasi tiga faktor utama yang memiliki korelasi kuat dengan pola jenis kelamin anak yang konsisten dalam suatu keluarga. Faktor-faktor ini memberikan perspektif baru mengenai mekanisme biologis yang belum sepenuhnya dipahami.

Faktor pertama yang teridentifikasi adalah usia ibu saat memulai kehamilan, khususnya saat wanita tersebut melewati usia 28 tahun. Wanita yang hamil di atas usia tersebut menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi untuk memiliki anak dengan jenis kelamin seragam, diduga terkait perubahan biologis yang terjadi pada tubuh seiring bertambahnya usia.

Selain itu, jumlah anak yang dimiliki juga memainkan peran signifikan dalam pola ini. Keluarga yang telah memiliki tiga anak atau lebih menunjukkan kecenderungan yang lebih besar untuk melanjutkan urutan jenis kelamin yang sama, dibandingkan dengan keluarga yang baru memiliki satu atau dua anak.

Temuan yang paling menarik adalah identifikasi adanya varian gen tertentu yang secara langsung terkait dengan penentuan jenis kelamin anak yang dihasilkan. Walaupun mekanisme pastinya belum terungkap, korelasi genetik ini menjadi area penelitian yang sangat menjanjikan.

"Meskipun kami belum tahu secara pasti mekanisme bagaimana gen-gen ini bekerja, namun kaitannya sangat jelas dan membuka pertanyaan baru dalam dunia ilmu pengetahuan," tambah Profesor Chavarro mengenai temuan genetik tersebut.