JAKARTAHYPE.COM - Wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat menyimpan kekayaan kuliner yang sangat unik, lahir dari pertemuan budaya Sunda dan Jawa. Kawasan seperti Indramayu menjadi saksi lahirnya hidangan dengan karakter rasa yang khas, memadukan gurih, pedas, hingga kesegaran asam.

Keragaman cita rasa tersebut diangkat secara komprehensif oleh pakar gastronomi Indonesia, Murdijati Gardjito. Ia mendokumentasikan kekayaan kuliner ini dalam buku berjudul "Bukan Sunda Bukan Jawa," yang ditulis bersama Mulya Sari Hadiati dan Aulia Safrina.

Buku setebal 264 halaman yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu ini tidak hanya menyajikan resep, tetapi juga mengulas sejarah dan budaya masyarakat di Indramayu, Cirebon, Tegal, dan Brebes. Dokumentasi ini diperkaya dengan sketsa berwarna dari @jakartafoodsketchers untuk visualisasi yang lebih baik.

Murdijati Gardjito dikenal luas dalam dunia kuliner Nusantara berkat penelitian intensifnya terhadap makanan tradisional sejak tahun 2000 melalui Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM. Dedikasi ini telah menghasilkan puluhan buku mengenai kuliner Indonesia.

"Sejak tahun 2000 ia meneliti makanan tradisional melalui Pusat Kajian Makanan Tradisional UGM dan telah menulis puluhan buku mengenai kuliner Indonesia," demikian salah satu informasi mengenai kiprahnya.

Dedikasi Murdijati telah membuahkan berbagai penghargaan bergengsi, termasuk penghargaan dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X sebagai pelestari budaya pada tahun 2012. Beliau juga menerima Lifetime Achievement Award di Ubud Food Festival 2019.

"Murdijati juga menerima penghargaan dari Indonesian Gastronomy Association sebagai perintis dan pelopor penelitian gastronomi Indonesia," tambah informasi mengenai pengakuan atas kontribusinya.

Salah satu hidangan ikonik yang kini banyak dikenal adalah nasi lengko, yang ternyata berasal dari Indramayu dan sering dinikmati sepanjang hari oleh masyarakat setempat. Nasi lengko adalah sajian nabati murni yang terdiri dari tahu, tempe, sayuran rebus, bawang goreng, dan disiram bumbu kacang.

Selain nasi lengko, ada pula rumbah yang sekilas mirip pecel atau gado-gado, namun perbedaannya terletak pada kuah rebusan asam jawa yang memberikan sensasi rasa ringan dan segar. Hidangan ini menunjukkan variasi pengolahan sayuran rebus di wilayah tersebut.