JAKARTAHYPE.COM - Kelelahan yang berkepanjangan saat memulai hari kerja sering kali menjadi indikasi awal munculnya sindrom burnout. Kondisi ini biasanya disertai dengan penurunan motivasi yang tiba-tiba dan rasa enggan menyelesaikan tugas-tugas yang sebelumnya dinikmati.

Sindrom kelelahan kerja kronis ini semakin sering ditemukan, terutama di kalangan pekerja profesional dan generasi muda dengan tuntutan mobilitas yang tinggi. Tekanan profesional yang masif dan tuntutan produktivitas yang terus-menerus memicu kelelahan yang menyerang baik aspek fisik maupun mental seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melalui Revisi ke-11 Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11), mengonseptualisasikan burnout sebagai konsekuensi dari stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola secara efektif. Fenomena ini juga dapat dipicu oleh ketegangan yang berasal dari area kehidupan lain, seperti tanggung jawab pengasuhan, peran merawat orang lain, hingga dinamika hubungan pribadi.

Dilansir dari Wolipop, WHO menegaskan bahwa burnout bukanlah suatu kondisi medis, melainkan fenomena yang sepenuhnya berkaitan dengan pekerjaan. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan, situasi tersebut berpotensi mengganggu kesehatan dan ritme kehidupan sehari-hari secara signifikan.

Indikator utama burnout menurut WHO adalah rasa lelah yang konstan, bahkan setelah seseorang cukup beristirahat. Tubuh terasa kekurangan energi untuk beraktivitas, sementara beban pikiran terasa berat sejak bangun tidur, yang membuat rutinitas harian sulit dijalani.

Penurunan motivasi yang sangat drastis mengubah tugas-tugas yang tadinya menyenangkan menjadi beban yang terasa berat. Kondisi ini kemudian memicu perilaku menunda pekerjaan, munculnya rasa malas, hingga hilangnya antusiasme untuk mencapai target yang ditetapkan.

Dampak nyata dari sindrom ini juga terlihat dari penurunan konsentrasi dan kemampuan berpikir seseorang. Individu menjadi mudah lupa, mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan, serta kehilangan fokus, yang pada akhirnya menyebabkan merosotnya produktivitas dalam bekerja.

Ketidakstabilan emosi membuat penderita menjadi lebih sensitif, mudah marah, tersinggung, atau frustrasi hanya karena persoalan kecil. Penumpukan tekanan mental membuat situasi sederhana yang biasanya dihadapi dengan tenang menjadi sangat mengganggu.

Perubahan pola tidur, termasuk kesulitan tidur (insomnia) atau tidur berlebihan, merupakan ciri fisik yang sering muncul. Pikiran yang terlalu penuh dan stres berkepanjangan menyebabkan tubuh gagal mendapatkan istirahat yang optimal, sehingga rasa lelah tetap bertahan meski sudah tidur cukup lama.