JAKARTAHYPE.COM - Banyak orang tua menghadapi kebingungan ketika anak memasuki masa remaja, di mana perilaku yang sebelumnya patuh berubah menjadi lebih sering membantah dan mencari ruang privasi. Perubahan ini seringkali membuat orang tua merasa terasing karena anak mulai mendahulukan lingkungan pertemanan dibandingkan kebersamaan keluarga.
Kondisi perkembangan ini merupakan bagian yang sangat normal dalam tahapan tumbuh kembang seorang remaja, sebagaimana dijelaskan oleh Psikolog Pritta Tyas. Penjelasan ini disampaikan saat Pritta menjadi pembicara dalam acara Panduan Tenang Keluarga bersama Grab yang diselenggarakan di Bale Nusa, Jakarta.
Menurut teori perkembangan psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson, remaja yang berada dalam rentang usia 12 hingga 18 tahun sedang aktif menjalani fase penting, yaitu pencarian identitas diri mereka yang sesungguhnya.
"Yang mereka kejar sebenarnya adalah identitas diri," jelas Pritta saat memaparkan materinya.
Fase pencarian identitas ini menuntut remaja untuk diakui bahwa pemikiran dan perasaan yang mereka miliki adalah hal yang valid dan penting untuk didengar. Mereka juga sangat membutuhkan kesempatan untuk mencoba berbagai hal secara mandiri tanpa intervensi berlebihan dari orang tua.
Pritta menambahkan bahwa kebutuhan akan otonomi inilah yang sering menjadi sumber konflik utama di lingkungan rumah tangga. Ketika anak mulai menyatakan preferensinya dengan kalimat seperti "Aku maunya begini" atau "Sekarang zamannya sudah beda," orang tua cenderung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan.
Chef Jepang Ungkap Rahasia Turun Bobot 11 Kg dalam Dua Bulan Hanya dengan Konsumsi Mentimun
Namun, pandangan tersebut perlu diluruskan karena sikap tersebut justru merupakan indikasi positif bahwa anak sedang dalam proses membangun kemandirian mereka. "Lebih baik anak remaja ngelak daripada jawab 'terserah' terus. Itu artinya dia sedang belajar punya pendapat," ujarnya.
Jika anak terlalu bergantung pada setiap keputusan orang tua, mereka berisiko mengalami apa yang disebut sebagai role confusion atau kebingungan identitas. Hal ini dapat termanifestasi dalam kesulitan menentukan pilihan hidup, mulai dari pemilihan jurusan kuliah hingga penentuan hobi yang diminati.
Dalam proses pendewasaan ini, remaja menjalani tahapan yang disebut individuation, yaitu pemisahan identitas diri mereka dari sosok orang tua. Tanda-tanda fase ini termasuk meningkatnya prioritas pertemanan, kebutuhan akan privasi yang lebih besar, serta keinginan kuat untuk mengeksplorasi kemampuan diri mereka.