JAKARTAHYPE.COM - Bagi sebagian besar orang, membawa camilan saat beraktivitas sehari-hari telah menjadi sebuah kebiasaan yang melekat. Keberadaan camilan seolah menjadi pelengkap wajib, baik saat berada di lingkungan kerja, bangku kuliah, maupun ketika sedang dalam perjalanan.

Data riset pasar global yang dirilis oleh Mintel menunjukkan bahwa fenomena ini tidak hanya terjadi di satu negara. Lebih dari 80% konsumen di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat dilaporkan memiliki kebiasaan mengonsumsi camilan di sela-sela waktu makan utama mereka.

Angka ini bahkan lebih mencolok di Amerika Serikat, di mana lebih dari 90% warganya dilaporkan mengonsumsi satu hingga tiga camilan setiap harinya. Hal ini mengindikasikan betapa lumrahnya kebiasaan ngemil di kalangan masyarakat internasional.

Lantas, apa sebenarnya yang mendorong orang untuk begitu gemar mengonsumsi camilan? Fenomena ini menarik untuk ditelisik lebih dalam dari berbagai sudut pandang.

Dikutip dari situs resmi Food Navigator Europe, terdapat tiga alasan utama yang mendasari mengapa camilan kerap dianggap sebagai 'barang wajib' yang selalu siap sedia di dalam tas.

Penelitian dari Mintel mengungkapkan bahwa mayoritas konsumen di berbagai negara memiliki kebiasaan ngemil di antara waktu makan. Hal ini menunjukkan bahwa camilan bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian dari pola konsumsi yang umum.

"Lebih dari 80% konsumen di Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat memiliki kebiasaan ngemil di antara waktu makan," demikian data yang dirilis oleh Mintel, sebagaimana dikutip dari Food Navigator Europe.

Lebih lanjut, data tersebut juga menyoroti frekuensi konsumsi camilan di Amerika Serikat. Angka yang sangat tinggi ini menunjukkan kedekatan budaya antara camilan dan gaya hidup sehari-hari.

"Bahkan, lebih dari 90% warga Amerika mengonsumsi satu hingga tiga camilan setiap harinya," ungkap data dari Mintel, dilansir dari Food Navigator Europe.