JAKARTAHYPE.COM - Dunia perfilman dokumenter Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran karya terbaru berjudul Pesta Babi. Film ini merupakan hasil kolaborasi apik antara sutradara Dandhy Laksono dan Cypri Dale yang menyoroti isu lingkungan serta kemanusiaan di tanah Papua.

Narasi dalam karya ini terinspirasi dari esensi novel klasik karya George Orwell tahun 1945 yang berjudul Animal Farm. Novel tersebut menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat mengubah bahasa dan mengendalikan kebenaran melalui metafora babi yang memimpin revolusi.

"George Orwell menulis Animal Farm pada 1945, sebuah satir tentang bagaimana babi-babi yang memimpin revolusi perlahan menjelma menjadi penguasa baru," ujar narator dalam film tersebut.

Film Pesta Babi secara khusus mengangkat realitas pahit yang dihadapi oleh berbagai masyarakat adat di wilayah Papua Selatan. Fokus utamanya tertuju pada perjuangan suku Marind, Yei, Awyu, serta suku Muyu dalam mempertahankan tanah leluhur mereka.

Keberadaan hutan dan tanah adat suku-suku tersebut kini berada dalam kondisi terancam akibat masifnya ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tebu. Selain itu, kehadiran proyek pangan skala besar turut menjadi faktor utama yang mendesak ruang hidup masyarakat lokal.

"Pesan utamanya sederhana, kekuasaan tidak hanya menindas dengan kekuatan, tetapi juga mengendalikan bahasa dengan mengubah kata-kata sampai kebenaran itu sendiri sulit dikenali," kata narator menjelaskan filosofi di balik film ini.

Judul film ini sendiri berakar dari tradisi luhur yang dikenal dengan nama Awon Atatbon di kalangan masyarakat suku Muyu. Ritual adat ini menjadikan babi sebagai elemen krusial yang melambangkan kehidupan sosial serta nilai budaya yang tinggi.

Hilangnya kawasan hutan berdampak langsung pada ketersediaan babi hutan yang menjadi jantung dari berbagai upacara adat mereka. Kondisi ini menciptakan efek domino di mana ketiadaan babi berarti hilangnya pelaksanaan pesta adat yang selama ini menjadi pemersatu warga.

Fenomena ini pada akhirnya membawa ancaman serius terhadap hilangnya identitas budaya masyarakat adat di Papua Selatan secara perlahan. Tanpa ekosistem hutan yang mendukung, warisan leluhur tersebut terancam hanya menjadi kenangan bagi generasi mendatang.