JAKARTAHYPE.COM - Kondisi bisnis bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di ranah digital kini menghadapi tantangan signifikan. Para pelaku usaha merasakan tekanan ganda akibat kenaikan biaya operasional di platform e-commerce yang terus mengikis margin keuntungan mereka.
Situasi pelik ini diungkapkan oleh Vanilla Hijab, sebuah merek fesyen muslim lokal terkemuka yang didirikan oleh dua bersaudara, Atina Maulina dan Intan Kusuma Fauzia. Mereka menyoroti bagaimana jalur distribusi digital yang menjadi tumpuan utama kini justru menjadi beban berat.
Atina Maulina, selaku Founder Vanilla Hijab, menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai kebijakan sepihak platform yang menaikkan potongan biaya layanan secara progresif. Hal ini semakin mempersempit ruang gerak bisnis mereka di tengah kenaikan harga bahan baku.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
"Sedangkan biaya marketplace juga naik. Meskipun udah dihimbau-himbau, tapi kan tetep kayak biaya gratis ongkir layanan itu tetep dinaikin sama marketplace dan dibebankan ke seller. Jadi biaya marketplace naik, biaya bahan baku naik, sedangkan pasar itu susah menerima kalau harga dinaikkan," keluh Atina saat ditemui Wolipop di Tuscan Dream, Cipete, Jakarta Selatan baru-baru ini.
Menghadapi tekanan biaya yang semakin menjepit ini, Vanilla Hijab terpaksa mengambil langkah taktis untuk menaikkan harga produk secara perlahan dan bertahap. Kenaikan harga, misalnya dari kisaran Rp 80.000 menjadi Rp 95.000, dilakukan agar tidak memberikan kejutan besar kepada konsumen setia mereka.
Selain penyesuaian harga, Atina menyebutkan bahwa mereka juga mengerem volume produksi massal sembari terus memantau respons pasar. Mereka berupaya keras agar tetap kompetitif melawan produk impor siap pakai yang harganya cenderung lebih murah di pasaran.
Untuk menjaga daya saing tanpa harus memotong harga secara drastis, Vanilla Hijab memilih fokus pada peningkatan nilai tambah (added value) produk mereka. Inovasi menjadi kunci utama dalam strategi mereka saat ini.
"Pelan-pelan kita melihat tren, sama nambahin value sih sebenarnya. Kayak misal hijab, kita lagi coba bikin development hijab yang nggak usah pakai pentul-jadi instan pakai magnet gitu. Terus misalnya kayak dulu packaging-nya plastik, sekarang pelan-pelan kita pakai packaging yang reusable. Jadi meskipun harganya naik, konsumen merasa mendapatkan value tambahan," jelas Atina.
Meskipun Vanilla Hijab bermitra dengan produsen tekstil lokal besar seperti Gistex di Bandung, Atina mengakui bahwa sekitar 50% pasokan bahan baku di pasar Indonesia masih terikat pada jalur impor, yang rentan terhadap fluktuasi nilai tukar dolar.