JAKARTAHYPE.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat adanya peningkatan kasus infeksi menular seksual (IMS) di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, dengan lonjakan signifikan terlihat pada kelompok usia muda. Peningkatan ini menjadi perhatian serius pemerintah dan otoritas kesehatan terkait.
Data terbaru Kemenkes menunjukkan bahwa pada tahun 2024, tercatat sebanyak 23.347 kasus sifilis di seluruh Indonesia. Mayoritas kasus ini tergolong sifilis dini, mencapai 19.904 kasus, menunjukkan penularan yang aktif.
Selain sifilis, kasus gonore juga masih menunjukkan angka yang tinggi, yakni sebanyak 10.506 kasus tercatat secara nasional. Kasus gonore dilaporkan paling banyak ditemukan di wilayah DKI Jakarta, menandakan konsentrasi penularan di ibu kota.
Indonesia juga menghadapi tantangan signifikan terkait HIV/AIDS, menempati peringkat ke-14 dunia untuk jumlah orang dengan HIV (ODHIV) dan peringkat ke-9 untuk kasus infeksi baru HIV. Diperkirakan pada tahun 2025, jumlah ODHIV akan mencapai sekitar 564.000 orang.
Meskipun data menunjukkan bahwa baru sekitar 63 persen ODHIV yang mengetahui status kesehatannya, penanganan yang diberikan pun belum optimal. Dari yang terdeteksi, 67 persen telah menjalani terapi antiretroviral (ARV), namun hanya 55 persen yang berhasil mencapai viral load tersupresi.
Di tengah peningkatan kasus ini, muncul ancaman serius berupa resistensi obat, di mana antibiotik yang dulu efektif kini mulai kehilangan kemanjurannya. "Obat-obatan yang dulu diberikan untuk gonore, sekarang banyak yang nggak mempan lagi. Makin ke sini makin banyak bakteri yang kebal," beber pakar seks dr Boyke Dian Nugraha kepada detikcom Senin (25/6/2025).
Dokter Boyke menjelaskan bahwa bakteri penyebab IMS telah bermutasi dan beradaptasi, menyebabkan resistensi terhadap antibiotik umum seperti penisilin dan kanamycin yang dulu sering digunakan untuk gonore. "Dulu kita pakai penisilin, efektif. Lalu beralih ke kanamycin, lalu ke golongan fluoroquinolone seperti ciprofloxacin. Tapi sekarang? Banyak yang sudah nggak mempan," ungkapnya.
Saat ini, efektivitas antibiotik seperti penisilin dan sefalosporin generasi lama mulai menurun, memaksa tenaga medis untuk melakukan langkah diagnostik lebih lanjut. "Kalau pasien tidak kunjung sembuh, misalnya keluhan keluar nanah dari kemaluan terus-menerus, kita harus ambil sampel. Kemudian dikirim ke lab mikrobiologi untuk uji sensitivitas, untuk melihat antibiotik mana yang masih bisa melawan bakterinya," jelas dr Boyke.
Menurut dr Boyke, salah satu pemicu utama resistensi ini adalah pola penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan sembarangan oleh masyarakat. "Kuman itu pintar. Dikasih antibiotik, dia mutasi. Terus pasiennya berhubungan seks lagi, kena lagi, dikasih antibiotik yang sama, ya nggak mempan. Ini yang menyebabkan resistensi makin luas," jelasnya.