JAKARTAHYPE.COM - Perhatian publik dan warganet belakangan ini tersedot pada sejumlah hotel dengan kategori melati di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Hal ini terjadi setelah beberapa akomodasi tersebut membuat konten video promosi yang dinilai sangat tidak pantas.
Konten promosi yang diunggah melalui platform media sosial TikTok tersebut kini menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan masyarakat. Video-video tersebut dinilai melanggar norma kesopanan yang berlaku di Indonesia.
Alih-alih berhasil menarik minat calon wisatawan untuk menginap, promosi yang dilakukan justru menimbulkan reaksi negatif dan kegaduhan luas di tengah masyarakat. Hal ini menunjukkan kegagalan strategi pemasaran yang diterapkan oleh pihak hotel.
Dari hasil penelusuran yang dilakukan oleh awak media di platform TikTok, terlihat jelas bagaimana hotel-hotel melati tersebut memasarkan fasilitas kamar mereka. Pemasaran ini menggunakan narasi dan visual yang dianggap tidak sesuai dengan etika umum.
Konten video tersebut secara spesifik dinilai vulgar oleh banyak pihak yang menyaksikan unggahan tersebut di linimasa TikTok. Media sosial yang seharusnya menjadi alat promosi positif justru menjadi bagi pelaku usaha perhotelan ini.
"Mereka membuat konten video promosi yang dinilai vulgar," merupakan inti dari permasalahan yang memicu sorotan tajam terhadap praktik pemasaran hotel-hotel tersebut. Hal ini menunjukkan adanya pelanggaran kaidah promosi yang sehat.
Harmoni Nusantara Menggema di San Francisco: Gamelan dan Tari Bali Pukau Ratusan Pengunjung
Lebih lanjut, konten promosi itu dinilai "membuat konten video promosi yang dinilai vulgar" di mata publik, sehingga memicu reaksi keras dari masyarakat luas. Penggunaan narasi yang tidak pantas menjadi poin utama kritik yang dilayangkan.
"Mereka membuat konten video promosi yang dinilai vulgar," menggarisbawahi bahwa permasalahan utama terletak pada kualitas dan isi materi promosi yang dirilis oleh hotel-hotel di Mataram tersebut. Hal ini disampaikan oleh pengamat media sosial.
Dikutip dari media yang meliput isu ini, konten tersebut "dinilai vulgar dan memicu kegaduhan di tengah masyarakat" karena tidak mencerminkan nilai-nilai budaya dan norma ketimuran yang dijunjung tinggi.
Sumber: kontroversi