JAKARTAHYPE.COM - Komunitas Perempuan Menari (KPM) sukses menggelar pertunjukan memukau selama dua hari berturut-turut di ajang bergengsi Pasar Indonesia 2026. Acara budaya ini berlangsung di De Broodfabriek, Rijswijk, Belanda, pada tanggal 14 hingga 15 Mei 2026.
Sebanyak 18 penari, termasuk empat di antaranya merupakan mantan None Jakarta, menjadi garda terdepan dalam penampilan tersebut. KPM berkolaborasi erat dengan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Bali, dalam mempersiapkan repertoar pertunjukan mereka.
Mereka membawakan empat tarian khas dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi kekayaan budaya Nusantara. Sajian tari tersebut meliputi Tari Kenyalang dari Kalimantan, Tari Topeng Gong dari Betawi, Tari Pangkur Sagu dari Papua, serta Tari Lenso dari Maluku.
Penampilan yang dipersembahkan oleh KPM berhasil memukau perhatian para tamu undangan yang hadir di lokasi acara. Gerakan tari yang gemulai dan penuh penghayatan dari para penari sukses menyajikan kualitas pertunjukan yang tinggi.
Dikutip dari EVENTGUIDE.ID, para penari ini telah melalui proses latihan intensif selama tiga bulan sebelum terbang ke Belanda. Mereka dibimbing oleh koreografer ternama, yaitu Suprijadi Arsjad, Eri Setiawan, Santi, dan Nurul Aini Karies, demi mencapai kekompakan maksimal.
Selain tampil di Pasar Indonesia 2026, KPM juga menerima undangan tampil di dua acara Hari Ibu di Belanda. Acara tersebut adalah Moesson Moederdag di Museum Sophiahof dan Indische Moederdag di Zeeheldentheater, Den Haag, pada 10 Mei 2026.
Molly Prabawaty, selaku pemimpin tim pertunjukan, menyatakan bahwa penampilan ini adalah bukti pengakuan internasional. "Ini bentuk pengakuan dan dukungan dari dunia internasional terhadap komitmen dan tekad KPM untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia-Belanda melalui berbagai pertunjukkan seni tari Nusantara di Belanda," ujar Molly Prabawaty di Den Haag, Belanda, 15 Mei 2026.
Molly Prabawaty, yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Menteri Kementerian Komdigi, menambahkan bahwa kontribusi ini sangat nyata. "Penampilan KPM di Den Haag merupakan bentuk kontribusi nyata dari perempuan Indonesia dalam memajukan dan mengenalkan kebudayaan Nusantara ke dunia internasional," imbuhnya.
Ketua KPM, Sabena Betty Sihombing, menjelaskan bahwa KPM adalah wadah bagi 150 perempuan dari beragam profesi yang peduli pelestarian seni tari Indonesia. "KPM merupakan wadah yang beranggotakan 150 perempuan dari berbagai profesi yang peduli akan pelestarian seni budaya Indonesia, khususnya seni tari," ungkap Sabena Betty Sihombing.