JAKARTAHYPE.COM - Seorang dokter asal Jerman menempuh jalur yang tidak konvensional di masa kolonial karena didorong oleh rasa ingin tahu yang mendalam terhadap praktik pengobatan tradisional di Indonesia. Ia memutuskan untuk mempelajari metode pengobatan lokal yang saat itu sangat dipercaya oleh masyarakat setempat.

Kisah ini berpusat pada Friedrich August Carl, seorang dokter yang tiba di Hindia Belanda pada abad ke-19. Alih-alih hanya mengandalkan ilmu kedokteran modern yang ia kuasai, Carl justru menunjukkan ketertarikan besar untuk memahami sistem pengobatan yang berlaku di wilayah tersebut.

Carl secara aktif mengamati langsung bagaimana para praktisi pengobatan lokal, yang sering disebut dukun, bekerja dalam mendiagnosis gejala hingga meracik ramuan dari bahan-bahan alami. Ketertarikannya ini dipicu oleh fakta bahwa banyak pasien yang berobat kepada dukun justru menunjukkan hasil kesembuhan yang signifikan.

Rasa ingin tahu ini mendorong Carl untuk mempertanyakan efektivitas pengobatan lokal tersebut, meskipun secara ilmiah tidak sesuai dengan kurikulum kedokteran Eropa. Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat ketersediaan obat modern di Hindia Belanda sangat terbatas dibandingkan dengan Eropa.

Fenomena ketertarikan dokter Eropa terhadap pengobatan lokal ini ternyata juga dialami oleh banyak sejawatnya pada masa itu. Menurut Hans Pols dalam karyanya Merawat Bangsa (2018), persaingan antara dokter Barat dan dukun lokal sering muncul karena masalah aksesibilitas layanan kesehatan.

"Ketersaingan ini muncul karena persoalan akses pengobatan," ujar Hans Pols. Dokter Eropa umumnya hanya berpraktik di pusat-pusat perkotaan, sehingga sulit dijangkau oleh mayoritas penduduk yang tinggal di pedesaan.

Selain isu geografis, biaya pengobatan yang ditawarkan oleh dokter Eropa cenderung lebih mahal. Ditambah lagi, masyarakat lokal sering kali merasa asing dan takut terhadap prosedur pengobatan modern yang belum mereka pahami sepenuhnya, sehingga mereka lebih memilih berobat kepada dukun.

Didorong oleh rasa penasaran yang kuat, Carl berhasil mengamati secara cermat praktik pengobatan dukun. Hans Pols dalam risetnya menjelaskan bahwa Carl menemukan bahwa praktik pengobatan tersebut melibatkan upaya menebak penyakit berdasarkan gejala, diikuti dengan pemberian mantra dan ramuan herbal.

"Bagi Carl, rangkaian pengobatan tersebut bertumpu pada obat herbal. Jadi, mantra-mantra hanya penyerta dan yang menjadi kunci adalah penggunaan obat herbal yang diperoleh dari tanaman lokal," tulis Hans Pols dalam "European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation" (2008).