JAKARTAHYPE.COM - Tradisi masyarakat Cirebon tetap hidup dan terus diwariskan hingga kini, terwujud dalam berbagai upacara dan ritual keagamaan. Salah satu penanda kuat kebertahanan tradisi ini adalah penyajian hidangan-hidangan khas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap perayaan.

Keunikan kuliner Cirebon ini diungkap tuntas dalam sebuah buku berjudul 'Bukan Sunda Bukan Jawa'. Karya ini merupakan hasil riset mendalam dari para pakar gastronomi terkemuka.

Para penulis buku tersebut adalah Murdjiati-Gardjito, Mulya Sari Hadiati, dan Aulia Safrina. Mereka mengupas tuntas seluk-beluk makanan dan tradisi makan di wilayah Pantura.

Wilayah Pantura yang dimaksud mencakup daerah Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal. Kawasan ini secara geografis berada di titik pertemuan dua kebudayaan besar, yaitu Sunda dan Jawa.

Pertemuan budaya Sunda dan Jawa inilah yang kemudian melahirkan beragam hidangan dengan cita rasa yang sangat khas dan unik. Keberagaman ini menjadi salah satu daya tarik utama kuliner Cirebon.

Selain itu, tradisi yang berkembang di wilayah Pantura, termasuk Cirebon, juga masih sangat lekat dengan kebiasaan menyajikan makanan-makanan tertentu. Kebiasaan ini menjadi cerminan identitas budaya.

"Buku ini mengungkap tuntas soal makanan dan budaya makan di wilayah Pantura, meliputi Indramayu, Cirebon, Brebes, dan Tegal," demikian penjelasan dari karya ilmiah tersebut.

"Kawasan tersebut berada di wilayah pertemuan budaya Sunda dan Jawa yang akhirnya melahirkan beragam hidangan dengan cita rasa khas," tambah para penulis buku yang mendalami gastronomi.

"Tak hanya itu, tradisi di wilayah Pantura juga masih lekat dengan penyajian makanan tertentu," demikian uraian yang disajikan dalam buku tersebut.