JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan teknologi robotika yang menyerupai kemampuan fisik manusia kini semakin nyata terlihat di kawasan Asia Timur, khususnya Jepang dan China. Kedua negara tersebut baru-baru ini memamerkan inovasi humanoid terbaru yang memiliki spesialisasi dalam bidang olahraga kompetitif.

Di Jepang, sebuah robot pemain tenis meja bernama Ace dilaporkan telah memiliki kemampuan yang setara bahkan melampaui pemain manusia. Kehadiran Ace menandai babak baru dalam integrasi kecerdasan buatan (AI) ke dalam aktivitas fisik yang membutuhkan reaksi sangat cepat.

Dikutip dari CNBC Indonesia, keberadaan robot pemain pingpong sebenarnya sudah tercatat oleh Reuters sejak tahun 1983 silam. Namun, baru pada pengembangan kali ini teknologi tersebut benar-benar mampu menumbangkan pemain manusia dalam pertandingan profesional.

"Tidak seperti permainan komputer, yakni saat sistem AI sebelumnya melampaui ahli manusia, olahraga fisik dan waktu nyata seperti tenis meja tetap jadi tantangan besar yang belum terselesaikan karena persyaratannya untuk interaksi cepat, tepat dan kompetitif yang dekat dengan rintangan dan batas waktu reaksi manusia," ujar Peter Durr.

"Proyek ini bukan hanya untuk berkompetisi dalam permainan tenis meja, namun juga bertujuan untuk mengembangkan wawasan mengenai robot yang bisa merasakan, merencanakan dan bertindak dengan kecepatan dan ketepatan seperti manusia," kata beliau selaku direktur Sony AI Zurich.

Berdasarkan catatan uji coba pada April 2025, robot Ace berhasil memenangkan tiga dari lima pertandingan melawan pemain kategori elit. Meski sempat mengalami kekalahan saat menghadapi atlet profesional tingkat tertinggi, Ace akhirnya mampu membalas kekalahan tersebut pada Desember 2025 dan bulan lalu.

Sementara itu, inovasi berbeda muncul dari China yang memfokuskan pengembangan pada robot pelari. Dalam ajang perlombaan setengah maraton di Beijing pada April lalu, ratusan robot dikerahkan untuk menunjukkan kemampuan mobilitas mereka di lintasan lari.

Hasilnya sangat mengesankan, di mana para robot tersebut mampu mencapai garis finis dengan selisih waktu 10 menit lebih cepat daripada pelari manusia. Robot buatan Honor keluar sebagai pemenang dengan mencatatkan waktu tempuh 50 menit 26 detik.

"Berlari lebih cepat mungkin tidak tampak berarti pada awalnya, tetapi hal itu memungkinkan transfer teknologi, misalnya, ke dalam keandalan struktural dan pendinginan, dan akhirnya aplikasi industri," kata Du Xiaodi selaku engineer tim pengembang.