JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan situasi mengenai pemutaran film dokumenter berjudul 'Pesta Babi' menunjukkan adanya peningkatan ketegangan di kalangan mahasiswa penyelenggara. Kejadian pembubaran dan dugaan intimidasi oleh oknum tentara terhadap peserta pemutaran film menjadi sorotan utama dalam perkembangan isu ini.

Peristiwa pembubaran sebelumnya terjadi dalam kegiatan nonton bareng yang diselenggarakan di Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Khairun di Ternate, Maluku Utara, pada tanggal 12 Mei 2026. Dokumentasi dari kegiatan tersebut sempat diabadikan oleh Mapala KAFRAPALA Unkhair Ternate.

Menyikapi atmosfer yang mencekam pasca-pembubaran tersebut, seorang mahasiswa di Surakarta, Jawa Tengah, memilih mengambil langkah antisipatif. Mahasiswa tersebut merasa perlu menyelenggarakan pemutaran film secara tertutup dan sembunyi-sembunyi di kamar kos pribadinya.

Mahasiswa yang identitasnya dirahasiakan ini mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi represi yang mungkin timbul. Kekhawatiran ini muncul lantaran kegiatan diskusi dan pemutaran film 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita' dianggap berisiko memicu reaksi negatif dari pihak berwenang.

Kekhawatiran ini mendorongnya untuk memindahkan lokasi pemutaran film guna menghindari potensi intervensi lebih lanjut. Keputusan ini diambil sebagai respons langsung terhadap insiden pelarangan dan intimidasi yang sebelumnya sempat terjadi.

Adapun film dokumenter yang menjadi fokus perhatian tersebut berjudul 'Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita'. Film ini memicu kontroversi sehingga penyelenggaraan pemutaran sering kali menghadapi hambatan di ruang publik.

"BERITA pelarangan dan intimidasi tentara terhadap peserta diskusi film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita membuat Pramono menggelar nonton bareng secara diam-diam di kamar kosnya," demikian kesaksian yang didapat dari sumber informasi mengenai situasi tersebut.

Lebih lanjut, narasumber yang meminta identitasnya disamarkan tersebut menjelaskan alasan di balik kehati-hatian ekstra yang ia ambil. "Mahasiswa salah satu universitas di Surakarta, Jawa Tengah, yang meminta identitasnya disamarkan itu, khawatir mendapat represi lantaran menggelar acara pemutaran film," ungkap mahasiswa tersebut.

Dikutip dari informasi yang beredar, tindakan represif tersebut mendorong inisiatif pemutaran film beralih ke ranah privat. Hal ini mengindikasikan adanya tantangan dalam kebebasan berekspresi dan berdiskusi di lingkungan akademik tertentu.