JAKARTAHYPE.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai titik puncak sebelum akhirnya mereda dengan sebuah kesepakatan mengejutkan. Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan antara kedua negara pada hari Selasa, 7 April 2026.
Pengumuman ini datang hanya beberapa jam setelah Trump melontarkan ancaman keras yang mengindikasikan kesiapan AS untuk menghancurkan peradaban Iran jika negosiasi gagal mencapai titik temu yang diinginkan.
Namun, di balik negosiasi diplomatik tersebut, perang di ranah maya telah meninggalkan jejak kerusakan signifikan pada sistem vital Amerika Serikat. Lembaga keamanan siber, penegak hukum, dan badan intelijen AS memberikan peringatan keras mengenai kampanye peretasan yang dilancarkan oleh pihak Iran.
Kampanye peretasan tersebut secara spesifik menargetkan berbagai perangkat yang menjadi tulang punggung infrastruktur kritis di berbagai sektor AS yang sangat rentan.
Menurut peringatan yang dikeluarkan bersama, para peretas Iran fokus pada perangkat seperti pengontrol logika yang dapat diprogram (PLC) serta sistem SCADA (tampilan kontrol pengawasan-akuisisi data) yang memiliki akses publik. Perangkat-perangkat ini krusial karena berfungsi sebagai penghubung atau pengontrol langsung terhadap peralatan dan sistem infrastruktur penting nasional.
Para agen keamanan menduga bahwa tujuan utama dari operasi siber ini adalah untuk menciptakan kekacauan dan gangguan luas di seluruh wilayah AS.
"Para peretas berupaya menimbulkan efek disruptif di AS," ujar penasihat lembaga terkait, dilansir dari Reuters pada hari Rabu, 8 April 2026.
Lebih lanjut, dampak serangan tersebut terkonfirmasi telah melampaui sekadar upaya pengintaian, menyebabkan kerugian nyata di lapangan.
"Dalam beberapa kasus, penyerangan ini telah menyebabkan gangguan operasional dan kerugian materil," ia menambahkan pernyataan tersebut.