JAKARTAHYPE.COM - Di tengah hiruk pikuk tuntutan profesional yang kian meningkat, generasi muda yang dikenal sebagai Gen Z mulai menyadari bahwa pencapaian produktivitas semata tidak lagi menjadi tolok ukur utama kualitas hidup mereka. Fenomena ini semakin diperkuat oleh temuan sebuah survei global.

Sebuah laporan bertajuk Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey mengemukakan data yang cukup mengkhawatirkan. Sebanyak 46% dari responden Gen Z melaporkan bahwa mereka kerap kali merasakan kecemasan dan stres yang intens selama jam kerja.

Bagi kelompok demografis yang tumbuh bersama pesatnya perkembangan teknologi ini, isu kesehatan mental telah bergeser dari sekadar pilihan menjadi sebuah prioritas yang tak terelakkan. Keduanya dianggap sebagai penentu utama kualitas hidup dan faktor krusial dalam keputusan mereka untuk bertahan di suatu perusahaan.

Survei yang sama juga menyoroti sebuah tren penting. Keseimbangan antara tanggung jawab pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance) tetap menjadi pertimbangan utama bagi Gen Z dan milenial ketika mereka mengevaluasi sebuah lingkungan kerja.

Keseimbangan ini bahkan dinilai lebih penting dibandingkan penanda kesuksesan konvensional, seperti posisi jabatan tinggi atau kepemilikan materi yang berlimpah.

Sifat yang paling dikagumi dari rekan kerja oleh generasi ini juga berkaitan erat dengan keseimbangan tersebut, menunjukkan pergeseran nilai dalam dinamika profesional.

"Angka yang mengejutkan ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan keseimbangan hidup di kalangan Gen Z bukan lagi sekadar tren, melainkan sebuah kebutuhan mendasar," demikian bunyi salah satu analisis dari survei tersebut.

Fokus pada kesejahteraan pribadi ini secara langsung memengaruhi persepsi mereka terhadap tempat kerja yang ideal dan berkontribusi pada retensi karyawan.

"Bagi kami, memiliki waktu untuk diri sendiri, keluarga, dan hobi sama pentingnya dengan menyelesaikan tugas pekerjaan dengan baik," ujar seorang responden Gen Z dalam survei tersebut.