JAKARTAHYPE.COM - Tekanan jual yang sempat menghantam saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) akibat proses rebalancing indeks MSCI kini diperkirakan telah mencapai titik puncaknya. Pergerakan harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu diprediksi akan kembali ditopang oleh fundamental perusahaan yang dianggap sangat solid.
Ke depan, prospek BBCA juga didukung oleh sentimen positif terkait rencana perusahaan untuk membagikan dividen interim sebanyak tiga kali pada tahun 2026 mendatang. Rencana ini menjadi salah satu katalis utama yang dapat menarik kembali minat investor jangka panjang.
Pada penutupan perdagangan hari Jumat, 29 Mei 2026, saham BBCA tercatat mengalami pelemahan signifikan sebesar 4,60 persen, ditutup pada level harga Rp 5.700 per lembar saham. Koreksi tajam ini terjadi seiring dengan maraknya aksi jual yang dilakukan oleh investor asing.
Koreksi tersebut tidak hanya menimpa BBCA, melainkan juga menyeret saham-saham perbankan berkapitalisasi jumbo lainnya yang menjadi bagian dari transaksi besar pada hari itu. Hal ini menunjukkan adanya penyesuaian portofolio institusi secara masif.
Sebagai ilustrasi, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga terkoreksi 3,91 persen, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) melemah 1,21 persen dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 3,65 persen. Ini menggarisbawahi luasnya dampak penyesuaian indeks pada sektor perbankan.
Analis Saham dari Trimegah Sekuritas, Jonathan Gunawan, menegaskan bahwa penurunan harga saham BBCA yang terjadi tidak mencerminkan adanya perubahan fundamental pada kondisi internal perusahaan. Menurut pandangannya, penyebab utama adalah faktor teknikal.
"Kalau melihat momentumnya, tekanan terbesar kemungkinan berasal dari rebalancing MSCI. Karena Jumat kemarin adalah hari terakhir sebelum perubahan indeks efektif, maka banyak fund pasif harus menyesuaikan bobot portofolionya pada hari itu juga," kata Jonathan Gunawan, dalam keterangannya pada Selasa (2/6/2026).
Jonathan menambahkan bahwa pelemahan tersebut lebih dipicu oleh penyesuaian portofolio yang dilakukan oleh investor institusi global yang secara otomatis mengikuti perubahan komposisi indeks MSCI. Ini adalah mekanisme pasar yang biasa terjadi.
Dilansir dari Kompas.com, secara keseluruhan, para analis meyakini bahwa setelah fase penyesuaian indeks selesai, fundamental BBCA yang kuat akan kembali menjadi penentu utama dalam menentukan valuasi saham di pasar modal.