JAKARTAHYPE.COM - Pedro Acosta, bintang muda Red Bull KTM, menegaskan bahwa dalam balapan MotoGP, motivasinya melampaui sekadar meraih kemenangan atau gelar dunia. Baginya, kompetisi di kelas utama adalah tentang pembuktian diri bahwa ia mampu meraih kesuksesan setara dengan pencapaiannya di kelas Moto2 dan Moto3.

Rider yang dijuluki 'Hiu Mazarron' ini mengungkapkan bahwa ia sangat terinspirasi oleh mentalitas bertarung yang ia lihat dalam film legendaris Gladiator. Inspirasi tersebut mendorongnya untuk selalu bangkit dari setiap kegagalan yang menimpanya dalam karier balapnya.

Acosta menjelaskan bahwa perjuangan di MotoGP memiliki makna yang sangat personal dibandingkan gelar-gelar sebelumnya. "Saya akan mendapatkan ‘hasil’ di kehidupan ini atau kehidupan selanjutnya. Saat ini saya merasa, jika ‘hasil’ itu belum bisa saya raih maka saya harus mengubah hidup saya untuk mencapainya," jelas Acosta.

Ia melanjutkan pandangannya mengenai pentingnya titel MotoGP, menekankan bahwa ini adalah pertarungan internal yang paling signifikan. "Dari semua gelar dunia yang pernah saya perjuangkan, saya rasa gelar dunia MotoGP ini, jika saya bisa memperjuangkannya, akan menjadi pertarungan paling pribadi yang pernah saya hadapi. Ini bukan lagi soal mengalahkan orang lain, ini soal membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya punya kemampuan untuk melakukannya," tegas Acosta.

Acosta juga memberikan pujian setinggi langit kepada Marc Marquez, khususnya mengenai kemampuannya untuk bangkit kembali ke level tertinggi pasca mengalami cedera parah beberapa tahun terakhir. Ia menganggap Marquez sebagai ikon ketangguhan seorang atlet.

"Menurut saya, kalau Marc bukan pembalap terbaik sepanjang sejarah, maka dia setidaknya berada di level yang sama dengan Valentino Rossi," ujar Acosta. Ia menambahkan bahwa kekaguman ini bukan hanya karena prestasi, tetapi juga karena semangat pantang menyerah Marquez.

Lebih lanjut, Acosta menyoroti keputusan berani Marquez yang memilih meninggalkan pabrikan besar seperti Honda untuk bergabung dengan tim satelit, sebuah langkah yang menurutnya sangat berisiko. "Bukan cuma karena pencapaiannya, tetapi karena saya benar-benar terkesan dengan caranya bangkit kembali. Setelah memenangkan 8 gelar dunia di usia 31 atau 32 tahun, berada di pabrikan motor terbesar di dunia, dan secara finansial dia tidak perlu kembali balapan, tapi dia justru ingin meninggalkan Honda untuk bergabung dengan tim satelit dan mempertaruhkan segalanya dalam satu pertaruhan," tegas Acosta.

Kepindahan Marquez ke Ducati Lenovo tahun depan akan membuat Acosta berbagi garasi dengan sang legenda, sebuah impian masa kecil yang akhirnya terwujud. Acosta pernah bertemu dan berfoto dengan Marquez saat ia memenangkan gelar MotoGP pertamanya pada tahun 2013.

"Selalu menyenangkan melihat impian masa kecil akhirnya menjadi kenyataan," kata Acosta. Ia menganggap kesempatan ini sebagai proses pembelajaran yang sangat berharga, terutama karena Marquez berada di puncak pengalaman dan pengetahuannya tentang motor dan kejuaraan.