JAKARTAHYPE.COM - Turkmenistan tengah menjadi sorotan dunia menyusul perkembangan terbaru mengenai kobaran api abadi di Kawah Darvaza, yang telah menyala tanpa henti selama lebih dari lima dekade. Lokasi yang dijuluki "Gerbang Neraka" ini dikabarkan mulai menunjukkan tanda-tanda meredup dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena unik ini berlokasi di Darvaza, sebuah kawah gas alam yang terletak di Gurun Karakum yang luas. Kejadian ini bermula dari kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh para insinyur Uni Soviet pada tahun 1971 saat mereka melakukan pengeboran eksplorasi minyak di area tersebut.
Pengeboran yang tidak disengaja tersebut menyebabkan kantong gas alam besar terbuka, dan untuk mencegah pelepasan asap beracun ke atmosfer, Soviet memutuskan untuk membakar gas tersebut dengan harapan api akan padam dalam beberapa minggu. Namun, rencana tersebut gagal total karena tanah di sekitar lokasi runtuh.
Peristiwa keruntuhan tanah itu menciptakan kawah besar dengan diameter sekitar 70,1 meter dan kedalaman mencapai 20,1 meter, yang kemudian terus terbakar dan menjadi daya tarik wisata utama Turkmenistan. Setelah puluhan tahun menjadi pemandangan konstan, para pengamat mulai mendeteksi bahwa api tersebut mengalami reduksi signifikan.
Temuan mengenai meredupnya api ini secara resmi diungkapkan oleh pihak Turkmenistan dalam sebuah konferensi internasional yang diselenggarakan pada tahun 2025. Pengurangan intensitas api ini menjadi topik diskusi penting mengenai pengelolaan sumber daya energi di kawasan tersebut.
"Pengurangan (kebakaran) hampir tiga kali lipat," kata Irina Luryeva, Direktur Turkmengaz yang merupakan perusahaan energi milik negara, Dikutip dari IFL Science, Rabu (6/5/2026).
Konfirmasi independen mengenai penurunan intensitas api juga telah diperoleh melalui analisis data satelit yang dilakukan oleh Capterio, sebuah perusahaan asal Inggris yang fokus pada solusi pembakaran gas. Data satelit ini memberikan validasi terhadap pengamatan visual yang dilakukan di lapangan.
Pemerintah Turkmenistan mengklaim bahwa penyebab utama meredupnya api ini adalah keberhasilan pengeboran dua sumur gas alam baru di dekat kawah pada tahun 2024. Pengeboran ini bertujuan untuk mengekstrak cadangan gas yang tersisa di bawah kawah tersebut.
Namun, analisis dari Capterio menawarkan sudut pandang yang sedikit berbeda, menyatakan bahwa api telah meredup bahkan sebelum sumur baru tersebut mulai beroperasi penuh, meskipun penyebab pasti dari penurunan intensitas awal tersebut masih belum dapat diidentifikasi secara jelas.