JAKARTAHYPE.COM - Fenomena childfree atau keputusan untuk tidak memiliki anak kini menjadi topik hangat yang perbincangannya semakin meluas di masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Keputusan ini mencerminkan pergeseran nilai dan prioritas individu dalam menentukan arah kehidupan mereka.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pada tahun 2023 yang menyoroti pola menarik terkait tren ini. Laporan berjudul "Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia" yang mengacu pada Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022, mengungkapkan bahwa sekitar 71 ribu perempuan berusia 15 hingga 49 tahun menyatakan tidak ingin memiliki anak.
Data BPS tersebut masih menjadi rujukan utama karena belum ada pembaruan signifikan yang menunjukkan perubahan drastis pada angka tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa fenomena childfree memiliki pijakan yang cukup stabil dalam masyarakat.
Deputi Bidang Pengendalian Kependudukan BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengonfirmasi bahwa tren childfree memang lebih sering dijumpai di wilayah perkotaan. "Kebanyakan di perkotaan memang. Tapi saya katakan masih kecil. Ini terpengaruh oleh media sosial. Jadi (semacam) tren," ujar Bonivasius.
Wilayah Pulau Jawa, khususnya DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, tercatat memiliki jumlah kasus terbanyak. Menurut Bonivasius, paparan media sosial yang masif memfasilitasi penyebaran informasi mengenai berbagai pilihan gaya hidup, termasuk konsep childfree, sehingga lebih mudah dikenal dan didiskusikan oleh publik.
"Paparan media sosial membuat berbagai pilihan gaya hidup, termasuk childfree, lebih mudah dikenal dan didiskusikan," kata Bonivasius.
Selain pengaruh media sosial, kawasan perkotaan umumnya memiliki karakteristik lain yang turut memengaruhi keputusan ini. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi, biaya hidup yang cenderung besar, serta perubahan cara pandang terhadap makna pernikahan, karier, dan perencanaan keluarga menjadi faktor penting.
Bonivasius juga menjelaskan bahwa keputusan untuk menjalani hidup childfree tidak selalu semata-mata berkaitan dengan kondisi ekonomi. Pengalaman traumatis, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dapat menjadi pemicu kuat.
"KDRT misalkan. Itu terjadi juga, dia nggak mau anaknya mengalami hal serupa. Menikah pun nggak mau karena takut anaknya jadi korban seperti itu," tutur Bonivasius.