JAKARTA, JakartaHype.com - Perdebatan mengenai kandungan nutrisi dalam susu kaleng, baik itu susu kental manis maupun susu evaporasi, kembali mencuat di tengah meningkatnya kesadaran pola hidup sehat masyarakat. Banyak konsumen yang masih mempertanyakan, apakah produk dalam kemasan kaleng ini masih bisa dikategorikan sebagai susu murni atau sekadar produk olahan berbasis gula?

Para pakar nutrisi dan ilmuwan dari berbagai universitas terkemuka dunia telah melakukan serangkaian riset mendalam terkait proses pemrosesan susu ini. Berdasarkan tinjauan jurnal ilmiah dan teknologi pangan internasional, berikut adalah lima fakta yang perlu Anda pahami agar tidak salah dalam memilih asupan nutrisi harian.

1. Proses Evaporasi Mengubah Struktur Alami Susu Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Dairy Science, susu kaleng (khususnya jenis evaporasi) adalah susu sapi murni yang telah melalui proses pemanasan untuk menghilangkan sekitar 60 persen kadar airnya. Meskipun kandungan protein dan mineralnya tetap terjaga, proses suhu tinggi (Ultra-High Temperature/UHT) yang digunakan untuk sterilisasi dalam kaleng dapat mengubah struktur protein dan menghilangkan sebagian vitamin yang larut dalam air, seperti vitamin C dan B kompleks.

2. Susu Kental Manis: Kategori Bahan Tambahan, Bukan Susu Minum Riset dari Harvard T.H. Chan School of Public Health secara tegas mengklasifikasikan susu kental manis sebagai produk dengan kadar gula tinggi. Berbeda dengan susu murni, produk ini mengandung tambahan sukrosa yang berfungsi sebagai pengawet alami. Para ahli menekankan bahwa produk ini lebih tepat digunakan sebagai bahan tambahan pangan atau topping, bukan sebagai sumber nutrisi utama bagi anak-anak atau pengganti susu cair murni.

3. Kandungan Gula Tambahan Ternyata Bisa Mencapai 45 Persen Inilah fakta yang paling krusial. Berdasarkan analisis komposisi yang sering dikutip dalam jurnal riset pangan, susu kental manis kalengan mengandung gula tambahan berkisar antara 40 hingga 45 persen. Tingginya kadar gula ini bertujuan untuk mencegah pertumbuhan bakteri secara alami tanpa bahan pengawet kimia. Namun, dampaknya adalah lonjakan indeks glikemik yang signifikan jika dikonsumsi secara rutin sebagai minuman tunggal, yang dalam jangka panjang berkaitan erat dengan risiko obesitas dan diabetes tipe 2.

4. Kehilangan Enzim Alami Akibat Sterilisasi Kaleng Ilmuwan dari University of California, Davis (UC Davis) dalam penelitian mengenai teknologi pangan mencatat bahwa susu murni segar mengandung enzim alami dan bakteri baik (probiotik) yang membantu pencernaan. Dalam kemasan kaleng, proses sterilisasi mutlak diperlukan untuk menjamin masa simpan yang lama. Sayangnya, proses ini mematikan seluruh aktivitas enzim dan bakteri baik tersebut, sehingga profil biologisnya berbeda jauh dengan susu murni yang dipasteurisasi secara minimal.

5. Oksidasi Lemak dalam Kemasan Jangka Panjang Jurnal riset internasional juga menyoroti potensi oksidasi lemak pada susu kaleng yang disimpan dalam waktu lama. Meskipun lapisan dalam kaleng sudah dirancang aman (BPA-free pada merek tertentu), interaksi antara sisa oksigen di dalam kemasan dengan lemak susu dapat menyebabkan penurunan kualitas nutrisi lemak esensial. Oleh karena itu, para ahli menyarankan untuk selalu memeriksa tanggal produksi dan tidak mengonsumsi susu dari kaleng yang sudah penyok atau berkarat.

Saran Pakar untuk Konsumen Para ilmuwan menyarankan konsumen untuk lebih jeli membaca label nutrisi. Jika tujuan Anda adalah mendapatkan kalsium dan protein murni tanpa tambahan kalori kosong, susu segar pasteurisasi tetap menjadi pilihan terbaik. Susu kaleng tetap memiliki tempat dalam dunia kuliner sebagai penambah rasa, namun pemahaman akan batas konsumsinya adalah kunci untuk menjaga kesehatan jangka panjang.