JAKARTAHYPE.COM - Bintang muda sepak bola Brasil, Endrick, baru-baru ini mengungkapkan tantangan besar yang dihadapinya selama masa adaptasi awal di Real Madrid, terutama terkait hambatan komunikasi dengan rekan setimnya. Meskipun demikian, dukungan emosional yang ia terima dari pemain seperti Jude Bellingham dan Trent Alexander-Arnold terbukti sangat fundamental bagi pemulihan kepercayaan dirinya.

Fokus utama dari dukungan ini adalah membantunya melewati masa sulit sebelum ia menjalani peminjaman selama enam bulan yang krusial di klub Prancis, Lyon. Peminjaman tersebut dirancang untuk memberikan menit bermain reguler yang sangat dibutuhkan oleh pemain berusia 19 tahun tersebut.

Setelah masa pinjaman yang dianggap produktif di Ligue 1 tersebut, Endrick kini telah kembali ke Santiago Bernabeu, di mana ia terikat kontrak hingga Juni 2030. Kinerja apiknya di Lyon telah mengamankan posisinya di skuad tim nasional Brasil menjelang turnamen besar mendatang.

Endrick menyebutkan bahwa kekompakan di ruang ganti Real Madrid sangat membantu menjaga kerendahan hatinya selama fase transisi yang menantang ini. Ia menyampaikan hal ini saat diwawancarai dalam program YouTube Men in Blazers.

"Tahun pertama selalu sulit," ujar Endrick, merujuk pada tantangan bergabung dengan deretan pemain bintang seperti Luka Modric dan Vinicius Junior di Madrid.

Ia menambahkan bahwa pengalaman sulit tersebut justru menjadi ajang pembelajaran berharga yang kini siap ia aplikasikan setibanya kembali di klub ibu kota Spanyol tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa ia mampu menyerap ilmu dari para seniornya.

Dukungan personal yang ia terima menjadi penopang emosional ketika kesempatan bermain di tim utama Madrid masih terbatas. Endrick secara spesifik menyoroti intensitas dukungan dari dua pemain Inggris tersebut.

"Bellingham menelepon saya setiap hari. Saat saya merasa sedih, dia menghibur saya dan kami berbincang. Dia sangat membantu saya. Begitu pula Trent. Mereka adalah pemain yang sangat ramah," ungkap Endrick.

Namun, dukungan tersebut datang dengan hambatan komunikasi yang unik, di mana sang penyerang merasa kesulitan memahami bahasa Inggris rekan-rekannya. "Saya mencoba belajar dari mereka, termasuk bahasa Inggris, tapi sulit sekali memahami apa yang mereka katakan,” jelas Endrick.