JAKARTAHYPE.COM - Klub Andalusia, Sevilla FC, saat ini hanya bisa mengandalkan dukungan penuh dari para suporternya, mengingat mereka sedang terjerembap dalam krisis yang mendalam di berbagai lini. Loyalitas suporter ini terlihat jelas menjelang pertandingan besar melawan Real Sociedad pada Senin malam, yang menjadi penutup pekan ke-34 LaLiga.
Para penggemar telah menunjukkan mobilisasi luar biasa, mulai dari menyambut tim di sesi latihan terakhir hingga menghiasi kompleks kota olahraga dengan pesan-pesan penyemangat dan bendera. Aksi ini diperkirakan akan berlanjut di Stadion Ramón Sánchez Pizjuán dengan lemparan gulungan tisu toilet, serupa dengan yang terjadi di Metropolitano beberapa waktu lalu, menciptakan atmosfer spektakuler.
Pertandingan kontra Real Sociedad ini menjadi penentu krusial bagi Sevilla dalam perjuangan mereka bertahan di kasta tertinggi sepak bola Spanyol. Saat ini, Sevilla berada di urutan ke-17 dengan mengoleksi 34 poin, hanya terpaut dua poin dari zona aman yang saat ini diisi oleh Alavés dengan 36 poin.
Klub telah berupaya membangkitkan semangat tim yang sedang menurun dengan melibatkan legenda klub seperti Pablo Alfaro dan Joaquín Caparrós untuk memberikan dorongan moral. Kedua figur tersebut menyampaikan semangat membara kepada skuad yang sedang berjuang.
"Darah merah kami mendidih," demikian pernyataan semangat yang diungkapkan oleh Pablo Alfaro dan Joaquín Caparrós, seperti dikutip dari artikel aslinya.
Sementara itu, asisten pelatih, Luis García Plaza, menekankan betapa pentingnya laga penentuan ini bagi masa depan klub. "Ini adalah final sesungguhnya," tegas Luis García Plaza, seperti yang dikutip dari artikel aslinya.
Perbandingan mencolok terlihat jika dibandingkan tiga tahun silam, ketika gulungan tisu yang sama menghiasi stadion saat Sevilla sukses menyingkirkan Juventus menuju final Liga Europa, yang kemudian dimenangkan melalui adu penalti melawan AS Roma. Kejatuhan klub dari puncak kejayaan tersebut dinilai brutal oleh banyak pihak.
Javier Tebas, Presiden LaLiga, menyebutkan bahwa penyebab utama kemerosotan ini adalah menurunnya pendapatan klub setelah beberapa musim absen dari kompetisi elite Eropa. Mempertahankan skuad bernilai 200 juta Euro tanpa partisipasi Eropa jelas memperparah kondisi finansial klub.
Namun, akar masalahnya disebut lebih dalam, yakni minimnya kemampuan para pengelola Sevilla dalam mengambil keputusan yang tepat selama periode ini. Hal ini menjadi isu mendasar yang memberatkan situasi klub saat ini.