JAKARTAHYPE.COM - Pertandingan Piala Dunia mendatang akan menyajikan duel yang sangat timpang dari sisi pengalaman dan reputasi. Jerman, yang telah empat kali menjuarai turnamen ini, siap menghadapi Curaçao dalam laga perdana mereka di NRG Stadium, Houston pada hari Minggu.
Curaçao, yang merupakan negara debutan di ajang Piala Dunia, dihadapkan pada lawan yang sangat berat dalam penampilan perdananya. Mereka harus segera beradaptasi dengan tekanan pertandingan level tertinggi sejak awal kompetisi.
Sebagai tim yang menduduki peringkat terbawah ketiga di antara kontestan zona Amerika Utara, Curaçao diprediksi akan kesulitan untuk memberikan dampak signifikan. Mereka tergabung dalam grup yang dipenuhi dengan tim-tim berpengalaman dan berkualitas tinggi.
Untuk sekadar meraih satu poin pun dari tiga pertandingan babak penyisihan grup, Curaçao diprediksi memerlukan penampilan yang luar biasa dan monumental. Hal ini menunjukkan betapa besar tantangan yang menanti mereka di debutnya.
Setiap harapan untuk mencatatkan poin pertama dalam sejarah partisipasi mereka di Piala Dunia kemungkinan besar akan cepat sirna. Jerman berambisi besar untuk memulai kampanye mereka dengan sebuah kemenangan meyakinkan.
Meskipun tim berjuluk Die Mannschaft ini sempat mengalami kesulitan di turnamen besar dalam dekade terakhir, mereka memasuki edisi tahun ini dengan performa yang kuat. Jerman kini dianggap sebagai salah satu kandidat serius untuk merebut mahkota juara.
Pertemuan antara kedua negara ini dipastikan akan menjadi yang pertama kali terjadi dalam sejarah kompetisi internasional mana pun. Jerman akan menargetkan kemenangan dengan skor besar sebagai cara ideal untuk mengawali turnamen.
Dilansir dari sumber berita yang meliput persiapan kedua tim, "Meskipun skuad Jerman kali ini mungkin bukan yang paling glamor dalam sejarah mereka yang gemilang, terdapat lautan talenta dalam daftar pemain asuhan Julian Nagelsmann."
Dikutip dari sumber berita, "Curaçao akan menghadapi kesulitan untuk mengimbangi beragam senjata serangan yang dimiliki Jerman selama 'baptisan api' yang sesungguhnya ini."