JAKARTAHYPE.COM - Kawasan permukiman yang kini dikenal sebagai kampung mati di Padukuhan Nglepen dan sebagian wilayah Sengir, Kelurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, belakangan ini menjadi lokasi favorit bagi para pembuat konten media sosial. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran dan keresahan signifikan di kalangan penduduk setempat yang masih tinggal di sekitar area tersebut.
Kondisi kampung mati ini terjadi setelah wilayah tersebut mengalami guncangan hebat akibat gempa bumi yang melanda pada tahun 2006 silam, memaksa warga untuk meninggalkan rumah mereka. Sejak saat itu, area tersebut perlahan menghijau dan kini tampak seperti hutan rimbun karena tidak lagi dihuni manusia.
Bahkan, karena suasana yang sepi dan rimbun, kawasan yang dulunya merupakan permukiman ini kini memiliki reputasi sebagai tempat yang 'wingit' atau dianggap memiliki unsur mistis oleh sebagian masyarakat. Meskipun begitu, suasana misterius inilah yang justru menarik perhatian banyak orang.
Ironisnya, kawasan yang kini menyerupai hutan alami tersebut justru ramai didatangi oleh para kreator konten yang mencari latar unik untuk produksi materi media sosial mereka. Mereka memanfaatkan nuansa alam liar dan bangunan terbengkalai sebagai latar belakang visual yang menarik perhatian audiens daring.
Keresahan warga ini memuncak seiring dengan meningkatnya arus pengunjung yang datang untuk membuat konten, yang dianggap mengganggu ketenangan dan potensi keamanan lingkungan. Hal ini mendorong warga untuk mengambil langkah konkret guna membatasi akses publik ke area terlarang tersebut.
Sebagai respons atas meningkatnya kunjungan dan untuk menjaga ketertiban, warga setempat mengambil inisiatif dengan memasang papan larangan resmi. Papan ini ditempatkan secara strategis di tepi jalan utama yang mengarah menuju jalan setapak di dalam dukuh tersebut.
"Kampung mati Padukuhan Nglepen dan sebagian Sengir, Kelurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta menjadi tempat ngonten. Warga mulai risau," demikian inti permasalahan yang dirasakan masyarakat sekitar.
"Kawasan kampung mati yang sudah ditanami pohon rimbun dan kini serupa hutan itu justru menjadi langganan orang untuk membuat konten di media sosial," ujar salah satu perwakilan warga mengenai situasi yang terjadi belakangan ini.
Dikutip dari sumber berita yang meliput isu ini, pemasangan papan penanda tersebut merupakan upaya preventif warga agar aktivitas pembuatan konten tidak merusak lingkungan atau menimbulkan hal yang tidak diinginkan di lokasi yang ditinggalkan pasca bencana.