JAKARTAHYPE.COM - Suasana tegang menyelimuti penulis artikel ini jelang pertandingan antara Freo Dockers dan Sydney Swans pada putaran ke-18 liga Australia tahun 2026. Pasalnya, beberapa sahabat dekatnya sengaja datang dari Sydney untuk menyaksikan tim kesayangan mereka bertanding, bertepatan dengan perayaan ulang tahun putri mereka yang berdomisili di Australia Barat.
Meskipun ada dorongan dalam hati untuk melihat para sahabatnya pulang dengan kekecewaan, penulis juga merasakan sedikit keinginan agar tim lawan mengalami nasib buruk. "Deep within my bitter, failure-soaked, grievance-filled heart I wanted just that," ungkap penulis, menyiratkan konflik batinnya.
Di awal pertandingan, keadaan tampaknya tidak berpihak pada tuan rumah. Freo Dockers kesulitan mencetak angka di babak pertama, sebuah situasi yang ironis mengingat pertandingan tersebut merupakan bagian dari acara penggalangan dana untuk Starlight Foundation.
"Well, given this was the Starlight Foundation game and every goal kicked would help to make some little kid’s life a bit more joyful, I couldn’t help thinking of the headline, ’ Cruel Dockers ignore plight of sick kids by donating only $1.85 to half time,’" tulis penulis, menggambarkan betapa suramnya jalannya babak pertama.
Skor di paruh waktu menunjukkan Sydney memimpin 4.9 berbanding 0.11 untuk Freo. Kendati tertinggal jauh, penulis masih melihat secercah harapan bahwa timnya tidak kebobolan terlalu banyak. "At least we hadn’t been put away," ujarnya, menandakan fokus pada upaya bertahan.
Namun, segalanya berubah drastis di babak kedua. Jordie Clark menjadi pemantik kebangkitan Freo yang mengawali kuarter penuh aksi jual beli serangan. Pertandingan berubah menjadi "shoot out of the highest order" dengan Charlie Curnow dari Sydney terus memberikan perlawanan sengit.
"And boy, wasn’t I to be punished for my hubris," tulis penulis, menyadari bahwa harapannya yang sempat negatif terbukti salah dan timnya harus berjuang keras. Ia juga mengomentari penampilan Charlie Curnow yang dinilainya sangat baik, "Curnow refused to trip over his chest and looked too good for Cox."
Titik balik krusial terjadi ketika pemain yang sebelumnya kurang bersinar, seperti Shai Bolton dan Jye Amiss, mulai menunjukkan performa gemilang. Dengan dukungan gol dari Treacy, Freo berhasil memperkecil ketertinggalan hingga hanya dua poin di akhir kuarter ketiga.
"Freo – even with a Brayshaw goal disallowed because the umpires were now taking instruction from FIFA boss Gianni Infantino – went to the final change having kicked six goals to three and trailed by just two points," papar penulis, menyoroti ketatnya persaingan.