JAKARTAHYPE.COM - Pada Jumat, 10 Juli 2026, mayoritas mata uang di Asia menunjukkan penguatan, namun secara akumulatif dalam sepekan, tren pelemahannya cukup signifikan. Rupiah Indonesia, yang ditutup pada posisi Rp18.045 per dolar AS, menguat tipis 0,14% pada hari itu, membalikkan pelemahan yang terjadi sebelumnya.

Dolar Amerika Serikat mengalami pelemahan selama dua hari berturut-turut. Hal ini dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah akibat serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar juga mencermati pergerakan harga minyak global serta potensi inflasi.

Fakhrul Fulvian, Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia, menekankan pentingnya aliran modal asing bagi Indonesia. Ia menyatakan bahwa "Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal asing yang cukup besar agar keseimbangan neraca pembayaran semakin kuat. Oleh karena itu kita tidak boleh cepat berpuas diri," ujar Fakhrul dalam catatannya pada Kamis, 9 Juli 2026.

Mata uang Asia lainnya juga menunjukkan performa positif pada Jumat, dengan yen Jepang memimpin penguatan sebesar 0,42%. Penguatan yen ini didorong oleh rencana pemerintah Jepang untuk mendorong dana pensiun agar meningkatkan investasi pada aset keuangan domestik.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengumumkan bahwa pemerintah sedang menyiapkan kebijakan yang akan melibatkan Government Pension Investment Fund (GPIF). Dana pensiun yang merupakan salah satu terbesar di dunia ini diharapkan akan mengalokasikan lebih banyak dana ke aset-aset Jepang.

Fabien Yip, seorang analis dari IG, menilai bahwa pergeseran alokasi investasi GPIF dari aset luar negeri ke domestik akan memicu arus modal masuk ke Jepang. Hal ini dinilai lebih efektif menopang yen dibandingkan intervensi langsung di pasar valuta asing.

Sebelum pengumuman kebijakan tersebut, yen sempat berada di ambang level terlemahnya terhadap dolar AS dalam hampir empat dekade terakhir.

Namun, gambaran sepekan menunjukkan pelemahan mata uang Asia secara umum. Rupiah tercatat ambruk 0,55% dalam sepekan, menjadikannya mata uang terburuk di antara negara-negara Asia. Mata uang seperti dolar Singapura dan rupee India juga mengalami pelemahan.

Sebaliknya, won Korea Selatan dan yuan Tiongkok menunjukkan penguatan yang konsisten. Yuan menguat setelah bank sentral Tiongkok, People's Bank of China (PBOC), memberikan sinyal kenyamanan terhadap apresiasi mata uang tersebut.