JAKARTA,JakartaHype.com- Penurunan tarif impor Amerika Serikat terhadap Indonesia dari 32% menjadi 19% tidak hanya menjadi capaian diplomatik, tetapi juga membuka peluang besar bagi perekonomian Indonesia.
Berdasarkan wawancara eksklusif dengan Pengusaha Muda Fauzan Fadel, B.Eng., MBA, penurunan tarif ini berpotensi menyelamatkan hingga 1% PDB Indonesia, yang setara dengan puluhan triliun rupiah dan jutaan lapangan pekerjaan.
“Penurunan tarif dari 32% ke 19% bukan sekadar angka diplomatik—ia berpotensi menjaga hingga 1% PDB Indonesia dan jutaan lapangan kerja,” ujar Fauzan dalam wawancaranya pada Rabu (22/2/2026).
Baca Juga: Rahasia Kelembutan Roti Keset Condet, Teman Setia Ngopi yang Bikin Nagih!
Hal ini mengingat, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar utama ekspor non-migas Indonesia, dengan total perdagangan bilateral yang mencapai USD 40 miliar setiap tahun.
Dampak dari kebijakan tarif yang tinggi sebelumnya sangat nyata—Indonesia diprediksi kehilangan ekspor hingga USD 8–10 miliar, yang dapat mengganggu sektor manufaktur dan logistik yang sangat bergantung pada akses pasar global.
Penurunan tarif ini memiliki dampak signifikan pada sektor logistik dan manufaktur Indonesia.
Di Indonesia, sekitar 90% perdagangan internasional dilakukan melalui jalur laut. Oleh karena itu, menjaga stabilitas ekspor sama artinya dengan menjaga arus distribusi barang dari pelabuhan hingga ke seluruh pelosok negeri.
"Setiap USD 1 miliar ekspor mendukung ribuan pekerjaan di sektor logistik—dari operator pelabuhan, freight forwarder, hingga UMKM yang mengelola distribusi domestik," tambah Fauzan.