Jakarta, JakartaHype.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengeluarkan peringatan dini terkait potensi fenomena anomali iklim El Nino yang diprediksi akan menghampiri Indonesia pada pertengahan tahun 2026.
Fenomena ini diproyeksikan membawa musim kemarau yang datang lebih awal, lebih kering, dan bertahan lebih lama dibandingkan kondisi normalnya.
Dalam konferensi pers bertajuk "Update Prediksi Musim Kemarau 2026" yang digelar Rabu (4/3), Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena, mengonfirmasi bahwa fenomena La Nina lemah yang bertahan sejak akhir 2025 telah dinyatakan berakhir pada Februari 2026.
Transisi ke Fase El Nino
Saat ini, kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) berada pada fase Netral dengan indeks -0,28. Namun, pemantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik menunjukkan tren penghangatan yang signifikan.
"Kondisi Netral diprediksi bertahan hingga Juni. Selanjutnya, mulai pertengahan tahun 2026, terdapat peluang sebesar 50-60% akan terjadi El Nino dengan kategori Lemah-Moderat," ujar Ardhasena.
Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap berada pada fase Netral sepanjang tahun, sehingga faktor utama yang akan memengaruhi intensitas kekeringan adalah fenomena El Nino tersebut.
Peta Sebaran Musim Kemarau
BMKG membagi awal masuknya musim kemarau ke dalam tiga gelombang besar berdasarkan 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia:
April 2026: Meliputi 144 ZOM (16,3%), mencakup Pesisir Utara Jawa, Jawa Tengah, Jawa Timur, sebagian Bali, serta wilayah NTB dan NTT.
Mei 2026: Meliputi 184 ZOM (26,3%), mencakup Sumatra, Jawa bagian Barat, Kalimantan bagian Selatan, sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Juni 2026: Meliputi 163 ZOM (23,3%), menjangkau sisa wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Maluku.
Ardhasena menekankan bahwa sekitar 46,5% wilayah Indonesia akan mengalami awal kemarau yang maju atau lebih cepat dari garis waktu rata-rata klimatologinya.
Instruksi Mitigasi Sektoral
Menanggapi ancaman kekeringan ini, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah maupun masyarakat:
Sektor Pertanian: Petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang hemat air serta memiliki siklus hidup yang lebih pendek (genjah).
Sektor Energi & Air: Pengelola bendungan diminta melakukan revitalisasi waduk guna memastikan cadangan air cukup untuk kebutuhan masyarakat dan operasional PLTA.
Sektor Kebencanaan: Pemerintah daerah diperingatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta penurunan kualitas udara.
"Kami mengimbau agar informasi ini dijadikan sebagai early warning agar pemangku kepentingan dapat segera melakukan early action guna meminimalkan dampak kerugian," tutup Ardhasena.