Jakarta, JakartaHype.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi mengeluarkan peringatan dini terkait transisi musim di wilayah Provinsi Banten. Warga, khususnya di bagian utara Banten, diminta mulai mengantisipasi dampak musim kemarau yang diprediksi akan tiba lebih awal dan bersifat lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, Hartanto, menjelaskan bahwa fenomena kemarau tahun ini masuk dalam kategori bawah normal hingga normal. Hal ini mengindikasikan intensitas hujan yang akan turun berada di bawah angka rata-rata histori klimatologi selama tiga dekade terakhir.
"Sifat bawah normal berarti curah hujan 85 persen atau bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata 30 tahun. Ini menunjukkan kondisi yang jauh lebih kering," ujar Hartanto dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Wilayah Pesisir Utara Jadi Fokus Utama
Meskipun pola hujan di setiap daerah bervariasi, BMKG menggarisbawahi bahwa kawasan pantai utara Banten merupakan titik yang paling rentan terhadap kekeringan. Secara bertahap, pergerakan musim kemarau ini akan dimulai dari wilayah utara sejak Maret dan bergerak menuju wilayah selatan hingga Juni 2026.
Senada dengan BMKG, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, membenarkan adanya percepatan musim kemarau di mayoritas wilayah Banten. "Mayoritas (awal kemarau) maju dari normalnya dengan sifat hujan yang cenderung minim," tegas Lutfi.
Langkah Mitigasi dan Penanganan
Menanggapi ancaman krisis air dan dampak pertanian, BPBD Banten telah menyiapkan serangkaian strategi mitigasi di lapangan, di antaranya:
Penyediaan Cadangan Air: Pembangunan sumur bor dan embung baru untuk menampung pasokan air baku.