JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan terbaru dalam ranah musik dan politik Amerika Serikat menunjukkan adanya ketegangan antara seniman dan pemerintahan Donald Trump. Ariana Grande kini menambahkan dirinya ke dalam daftar musisi yang menyuarakan keberatan atas pemanfaatan karya mereka tanpa izin oleh administrasi tersebut.

Peristiwa ini bermula pada hari Selasa, 9 Juni 2026, ketika akun resmi Gedung Putih mengunggah sebuah video melalui platform TikTok. Video tersebut bertujuan untuk mempromosikan kebijakan imigrasi yang semakin ketat yang diusung oleh pemerintah Amerika Serikat saat itu.

Video TikTok yang dipublikasikan menampilkan berbagai cuplikan visual yang menunjukkan aktivitas petugas dari Immigration and Customs Enforcement (ICE) bersama dengan aparat lainnya dalam proses penangkapan sejumlah individu. Penggunaan materi visual ini kemudian dipadukan dengan latar musik yang mengejutkan banyak pihak.

Lagu yang dipilih sebagai musik latar dalam video promosi kebijakan imigrasi tersebut adalah lagu berjudul 'Bye' yang merupakan karya dari Ariana Grande dari album terbarunya, 'Eternal Sunshine'. Akun Gedung Putih memberikan keterangan yang menyertai unggahan tersebut.

Keterangan akun Gedung Putih menyatakan, "Bye-bye 👋 Presiden Trump telah menghadirkan perbatasan paling aman dalam sejarah," sebagai referensi langsung terhadap lagu yang digunakan, sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Ariana Grande memberikan respons yang tegas dan cepat terhadap penggunaan lagunya tersebut. Dirinya memberikan balasan melalui kolom komentar pada hari Kamis, 11 Juni 2026, menyuarakan ketidaksetujuannya secara terbuka.

"Tolong jangan pernah memakai musik saya untuk hal barbar, tidak manusiawi, dan mengerikan seperti ini. F ck ICE," tulis Ariana Grande sebagai komentarnya, yang kemudian mendapatkan perhatian luas dari publik.

Setelah komentar penyanyi tersebut menjadi viral dan memicu diskusi besar, pihak pengelola akun TikTok Gedung Putih akhirnya mengambil langkah untuk mematikan (mute) lagu 'Bye' dari video promosi tersebut.

Perlu dicatat bahwa Ariana Grande bukanlah artis pertama yang memprotes keras pemanfaatan karyanya oleh pemerintahan Trump sejak masa jabatan tersebut dimulai. Sebelumnya, insiden serupa juga pernah dialami oleh penyanyi Sabrina Carpenter pada bulan Desember.