JAKARTAHYPE.COM - Turnamen akbar sepak bola Piala Dunia 2026 mendatang diprediksi akan menghadapi tantangan signifikan terkait kondisi iklim di kawasan Amerika Utara. Ancaman utama yang dihadapi adalah cuaca ekstrem selama musim panas yang diperkirakan akan mendominasi selama periode pertandingan berlangsung.

Kondisi ekstrem tersebut mencakup suhu udara yang sangat tinggi serta tingkat kelembapan yang ekstrem di beberapa lokasi pertandingan. Selain panas, potensi terjadinya badai petir juga menjadi salah satu variabel cuaca yang perlu diwaspadai oleh penyelenggara dan tim peserta.

Lembaga pemantau iklim global, World Weather Attribution, telah memberikan proyeksi mengenai potensi dampak dari kondisi cuaca ini. Mereka memperkirakan bahwa hampir seperempat dari total pertandingan bisa saja terselenggara di bawah kondisi yang melampaui batas aman yang telah direkomendasikan bagi atlet.

Penelitian lebih lanjut dari Climate Central juga menguatkan kekhawatiran ini dengan menunjukkan korelasi kuat antara perubahan iklim dan peningkatan risiko suhu ekstrem. Studi tersebut mengindikasikan bahwa suhu tinggi berpotensi mengganggu performa pemain dalam mayoritas laga.

Temuan Climate Central menyebutkan bahwa risiko suhu ekstrem yang dapat memengaruhi performa pemain berpotensi terjadi pada 97 dari total 104 pertandingan yang akan digelar. Ini menunjukkan betapa luasnya cakupan area yang diperkirakan akan mengalami dampak panas.

Dikutip dari analisis tersebut, disebutkan bahwa "penelitian Climate Central menyebut perubahan iklim meningkatkan risiko suhu yang dapat memengaruhi performa pemain pada 97 dari 104 pertandingan," ujar para peneliti.

Kondisi ini semakin diperkuat dengan penjelasan dari pakar fisiologi mengenai beban kerja tubuh atlet saat bertanding di bawah terik matahari. Pemain sepak bola secara alami memproduksi panas tubuh dalam volume yang sangat besar saat melakukan aktivitas fisik intensif.

Profesor Fisiologi dari University of Oregon, Chris Minson, memberikan pandangan spesifik mengenai beban fisiologis ini. Ia menegaskan bahwa "pemain sepakbola sudah menghasilkan panas tubuh dalam jumlah besar saat bertanding," kata Profesor Minson.

Kombinasi antara panas lingkungan dan panas internal tubuh atlet inilah yang menjadi fokus utama kekhawatiran para ahli menjelang perhelatan akbar empat tahunan tersebut. Perlu adanya antisipasi dan protokol mitigasi yang ketat untuk menjaga kesehatan para atlet.