JAKARTAHYPE.COM - Alphabet, perusahaan induk Google, telah secara resmi bergabung dengan deretan perusahaan teknologi besar yang menjalin kerja sama dengan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (DoD/Pentagon) pada tahun 2026. Kesepakatan ini berfokus pada penyediaan dan penggunaan model kecerdasan buatan (AI) untuk memproses informasi yang bersifat rahasia.
Kesepakatan terbaru ini memberikan izin kepada Pentagon untuk memanfaatkan perangkat AI dari Google dalam berbagai fungsi pemerintahan secara legal. Hal ini merupakan perkembangan penting setelah sebelumnya terjadi ketegangan antara Pentagon dan Anthropic mengenai batasan penggunaan AI.
Konflik sebelumnya muncul karena Anthropic menolak jika teknologi AI mereka digunakan untuk pengembangan senjata otomatis atau kegiatan pengawasan terhadap warga sipil Amerika Serikat. Persyaratan batasan penggunaan ini menjadi isu krusial dalam negosiasi antara pemerintah dan perusahaan teknologi.
Ratusan karyawan Google, termasuk lebih dari 20 direktur, direktur senior, dan wakil presiden, sempat mengirimkan surat terbuka kepada CEO Sundar Pichai. Mereka mendesak perusahaan untuk menghentikan kerja sama dengan pemerintah AS terkait pengembangan kecerdasan buatan untuk kepentingan militer.
Selain Google, Pentagon juga diketahui telah menjalin kemitraan serupa dengan OpenAI dan xAI yang dimiliki oleh Elon Musk. Tujuan utama dari semua kemitraan ini adalah untuk memastikan pasokan perangkat AI yang dapat digunakan dalam jaringan informasi rahasia atau 'terklasifikasi'.
Jaringan terklasifikasi ini memiliki fungsi vital dalam menangani tugas-tugas yang sangat sensitif, seperti perencanaan misi militer dan penargetan senjata spesifik. Informasi ini diungkapkan oleh Reuters pada hari Rabu, 29 April 2026.
Sebelumnya, Pentagon telah mengalokasikan dana sekitar US$200 juta (setara Rp3,4 triliun) untuk setiap lab AI pada tahun 2025, termasuk untuk Anthropic, OpenAI, dan Google. Reuters sebelumnya memberitakan bahwa Pentagon telah memberikan tekanan kepada perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic agar alat AI mereka dapat diakses dalam jaringan terklasifikasi tanpa batasan standar yang berlaku bagi pengguna umum.
Perjanjian terbaru yang ditandatangani Google mengharuskan perusahaan untuk membantu pemerintah dalam menyesuaikan pengaturan dan filter keamanan AI sesuai permintaan resmi dari pihak pemerintah. Hal ini diungkapkan melalui publikasi The Information.
Perjanjian tersebut mencakup klausul penting yang menegaskan bahwa "para pihak sepakat bahwa tool AI tidak dimaksudkan untuk, dan tidak boleh digunakan untuk, pengawasan massal domestik atau senjata otonom (termasuk pemilihan target) tanpa pengawasan dan kontrol manusia yang tepat."