JAKARTA, JakartaHype.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) makin terasa di dunia kerja. Bukan cuma soal pekerjaan yang hilang atau berubah, kini muncul kekhawatiran baru: AI bisa memutus jalur karier yang selama ini jadi “tangga naik kelas” bagi jutaan pekerja, termasuk di Indonesia.

Selama ini, banyak pekerja tanpa gelar sarjana mengandalkan pengalaman kerja untuk naik posisi. Dari kasir, admin, atau customer service, mereka bisa berkembang ke posisi yang lebih tinggi seperti supervisor, HR, atau sales. Jalur ini dikenal sebagai career pathway—dan menjadi kunci mobilitas ekonomi.

Namun, dengan AI yang semakin canggih, pola ini mulai terancam.

Bukan Sekadar Gantikan Pekerjaan

Tren terbaru menunjukkan AI tidak hanya menggantikan pekerjaan tertentu, tapi juga mengganggu koneksi antar pekerjaan. Artinya, bukan cuma satu posisi yang hilang, tapi “jalur naiknya” ikut terputus.

Contohnya, pekerjaan customer service kini mulai banyak dibantu chatbot AI. Di Indonesia, sektor ini cukup besar—mulai dari e-commerce, perbankan, hingga layanan digital. Jika peran ini berkurang, maka pekerja dari posisi entry-level seperti admin atau kasir kehilangan batu loncatan untuk naik ke level berikutnya.

Fenomena ini jadi perhatian karena mayoritas tenaga kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan non-sarjana. Data BPS menunjukkan sebagian besar angkatan kerja berasal dari pendidikan menengah ke bawah.

Pekerja Rentan, Adaptasi Jadi Tantangan

Masalahnya, tidak semua pekerja siap beradaptasi dengan perubahan ini. Banyak yang belum memiliki keterampilan digital atau akses pelatihan yang memadai.