JAKARTA, JakartaHype.com - Nama film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita mendadak jadi topik paling ramai di media sosial sepanjang Mei 2026. Bukan karena promosi besar-besaran, tapi justru karena satu hal yang paradoks: semakin dilarang, semakin banyak yang penasaran untuk menontonnya.
Tapi kenapa film ini dilarang? Dan kenapa justru makin laris ditonton? Ini 5 alasannya.
1. Isinya Menyentuh Isu yang Selama Ini Jarang Disorot
Film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale adalah dokumenter investigatif yang membahas konflik lahan, masyarakat adat, hingga keterlibatan aparat dalam proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan. Sebagaimana dikutip dari Kompas & Suara.com, film ini mengangkat isu pembukaan lahan besar-besaran untuk produksi pangan, biodiesel sawit, dan bioetanol tebu, di mana sekitar 2,5 juta hektar hutan Papua akan dikonversi menjadi kawasan perkebunan industri.
Bagi banyak penonton, ini bukan isu yang sering muncul di televisi arus utama — dan itulah yang bikin penasaran.
2. Nobar Dibubarkan Aparat dan Pihak Kampus
Ini pemicu utama viralnya film ini. Kasus yang paling ramai terjadi di Universitas Mataram. Pembubaran dilakukan pada 7 Mei 2026 oleh pihak kampus bersama petugas keamanan, dengan alasan menjaga kondusivitas kampus dan mencegah potensi konflik.
Tak hanya di kampus. Sebuah video yang memperlihatkan Komandan Kodim 1501/Ternate Letnan Kolonel Inf Jani Setiadi membubarkan pemutaran film Pesta Babi di Ternate, Maluku Utara pada 8 Mei 2026 ikut viral di media sosial. Alih-alih membungkam, pembubaran itu justru menjadi iklan gratis paling efektif untuk film ini.
3. Efek "Forbidden Fruit" — Dilarang Bikin Makin Ingin Tahu
Ini fenomena psikologi klasik yang terbukti berulang. Ironisnya, semakin banyak upaya pelarangan dilakukan, rasa penasaran publik justru semakin besar. Tagar tentang film ini ramai dibahas di berbagai platform digital, dan potongan video diskusi yang dibubarkan aparat hingga kesaksian penyelenggara acara tersebar luas, memicu perdebatan publik soal kebebasan berekspresi di Indonesia.
Orang yang tadinya tidak tahu soal Papua dan PSN pun akhirnya ikut mencari tahu karena satu berita pembubaran nobar.