JAKARTAHYPE.COM - Fenomena sosial mengenai dinamika hubungan, yaitu spoiled pig syndrome, kini menjadi sorotan karena berpotensi memicu pola interaksi yang tidak sehat antar pasangan. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana salah satu pihak terlalu terbiasa menerima perlakuan istimewa, sehingga menganggapnya sebagai hak mutlak yang wajib dipenuhi oleh pasangannya.

Dilansir dari AOL, meskipun spoiled pig syndrome bukanlah diagnosis klinis yang diakui secara resmi dalam psikologi, dampaknya terhadap hubungan asmara dapat menciptakan ketidakseimbangan signifikan. Dalam skenario ini, salah satu pasangan seringkali harus menanggung beban yang lebih besar, baik itu dari sisi emosional, finansial, maupun tanggung jawab harian.

Pola perkembangan perilaku ini cenderung terjadi secara bertahap, seperti dijelaskan oleh para ahli. Pada fase awal penjajakan hubungan, memberikan perhatian ekstra, hadiah, atau kejutan romantis merupakan hal yang lumrah sebagai ekspresi kasih sayang.

Namun, dinamika berubah ketika perhatian tersebut tidak lagi dilihat sebagai bentuk apresiasi semata, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah ekspektasi yang mengikat. Hal ini menandakan adanya pergeseran dalam cara pandang terhadap pemberian dalam relasi.

Ketika satu pihak secara konsisten memprioritaskan dan memenuhi kebutuhan pasangannya, hal ini dapat menumbuhkan rasa 'berhak' pada pihak yang selalu menerima perlakuan tersebut. Akibatnya, pihak yang terus memberi berpotensi mengalami kelelahan dan merasa kurang dihargai.

Kondisi ini memicu beban berat bagi pasangan yang selalu berupaya menjaga keberlangsungan hubungan agar tetap berjalan harmonis. Sementara itu, pasangan yang terbiasa dimanjakan berisiko menjadi sangat bergantung pada validasi dan perhatian berkelanjutan dari kawannya.

Apabila kondisi ketidakseimbangan ini dibiarkan tanpa penanganan, hubungan tersebut sangat rentan kehilangan fondasi kesetaraan dan berpotensi memicu konflik yang lebih besar di masa mendatang.

Selain isu tersebut, para pakar juga menyoroti tren relasi modern lain yang dikenal sebagai monkey-barring. "Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang mulai menjalin kedekatan dengan orang baru sebelum benar-benar mengakhiri jalinan asmara yang sedang berlangsung saat ini," ujar Dr. Max Doshay, seorang psikolog klinis.

Dr. Max Doshay menambahkan bahwa pola monkey-barring ini seringkali dikaitkan dengan kesulitan emosional seseorang dalam menghadapi masa transisi pasca perpisahan. "Pada awal hubungan, memberi perhatian lebih, hadiah, atau kejutan romantis adalah hal yang wajar sebagai bentuk kasih sayang. Namun, masalah mulai muncul ketika perlakuan tersebut tidak lagi dianggap sebagai bentuk apresiasi, melainkan berubah menjadi ekspektasi," kata Dr. Max Doshay.