JAKARTAHYPE.COM - Di tengah dinamika dunia percintaan modern, muncul istilah baru yang menjadi sorotan utama setelah fenomena seperti ghosting dan breadcrumbing, yaitu future faking. Istilah ini kini ramai diperbincangkan karena diidentifikasi sebagai salah satu tanda bahaya atau red flag serius dalam sebuah hubungan romantis.

Future faking didefinisikan sebagai praktik di mana seseorang secara konsisten menggembar-gemborkan rencana masa depan bersama pasangannya, padahal ia tidak memiliki intensi sedikit pun untuk merealisasikan janji-janji tersebut. Praktik ini sering kali diwujudkan melalui rangkaian janji manis, seperti ajakan untuk menikah, hidup serumah, atau membentuk unit keluarga di masa mendatang.

Pada tahap awal hubungan, perilaku ini sering disalahartikan sebagai bentuk romantisasi yang mendalam, membuat pasangan merasa sangat dihargai dan diyakinkan. Banyak individu akhirnya memutuskan untuk lebih serius dan berkomitmen karena tulus mempercayai semua skenario masa depan yang telah dibicarakan oleh pasangannya.

Dilansir dari NDTV, fenomena ini terungkap seiring berjalannya waktu ketika semua janji manis tersebut terbukti hanya sebatas wacana tanpa adanya langkah-langkah konkret untuk mewujudkan rencana yang telah diagungkan. Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam bagi pihak yang telah menaruh harapan besar.

Perbedaan mendasar future faking dengan bentuk manipulasi relasional lainnya terletak pada cara pelaku memanfaatkan harapan yang ditanamkan pada pasangannya. Pelaku membuat seseorang terus bertahan dalam hubungan bukan karena perkembangan yang sehat, melainkan karena terikat pada ilusi masa depan yang dijanjikan.

Individu yang terlibat dalam future faking umumnya sangat mahir membuat pasangannya merasa unik dan istimewa dalam waktu singkat. Bahkan ketika hubungan masih terbilang baru, mereka sudah berani membahas topik besar seperti pernikahan, kepemilikan rumah impian, hingga gambaran kehidupan bersama di masa depan.

Menurut ulasan dari Psychology Today, terdapat beberapa indikator yang dapat membantu mengidentifikasi praktik ini. Salah satu tandanya adalah pasangan tersebut sering melontarkan janji namun sangat jarang menepati apa yang telah diucapkannya.

Indikator lain adalah kecenderungan pelaku untuk selalu menghindar ketika pasangan mulai menuntut kejelasan mengenai kapan dan bagaimana rencana masa depan tersebut akan diimplementasikan. Mereka akan berusaha mengalihkan fokus pembicaraan dari realisasi rencana.

Lebih lanjut, ketika pasangan mulai menuntut kepastian, pelaku future faking sering kali membalikkan keadaan dan menyalahkan pasangannya sendiri. Mereka mungkin menuduh bahwa pasangannya terlalu banyak menuntut atau dianggap merusak atmosfer keintiman hubungan.