• JAKARTAHYPE.COM - Gelaran Hyrox di Jakarta beberapa waktu lalu diprediksi akan memicu lonjakan popularitas olahraga ini di tanah air. Namun, di balik antusiasme yang membuncah, muncul kekhawatiran tersendiri terkait fenomena "ikut-ikutan" atau _fear of missing out_ (FOMO) yang bisa berujung pada masalah kesehatan.

Peserta yang mendaftar Hyrox semata-mata karena takut ketinggalan tren tanpa pemahaman mendalam mengenai intensitas fisiknya berisiko tinggi mengalami cedera. Hal ini diungkapkan oleh spesialis kedokteran olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO.

Menurut dr. Andi, Hyrox bukanlah sekadar kompetisi lari biasa atau rutinitas latihan di pusat kebugaran pada umumnya. Intensitas kompetisi yang sangat tinggi menuntut kondisi fisik prima dari para pesertanya.

"Hyrox bukan sekadar lomba lari atau latihan di gym biasa," jelas dr. Andi, yang juga menjabat sebagai _medical lead_ pada Hyrox Jakarta 2026 lalu. Ia menambahkan bahwa tingkat keparahan cedera sangat bergantung pada kesiapan fisik individu.

"Intensitas yang tinggi membuat peserta berisiko mengalami berbagai cedera, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui seberapa kuat tubuhnya," imbuh dr. Andi.

Kondisi fisik yang belum siap menjadi faktor utama terjadinya cedera saat mengikuti rangkaian _challenge_ Hyrox yang menuntut fisik secara menyeluruh.

"Cedera yang paling ringan adalah kram ya," ujar dr. Andi saat sesi Sunset Talk bersama detikSore pada Senin, 13 Juli 2026.

Lebih lanjut ia memaparkan, "Kemarin (di Hyrox Jakarta) banyak banget yang kram, di antara lari itu kram, di antara narik, dorong, atau angkat, atau lempar itu kram."

Fenomena kram yang meluas di antara peserta menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara tuntutan fisik kompetisi dengan kapabilitas tubuh peserta yang belum teruji.