JAKARTAHYPE.COM - Praktik melakukan swafoto atau selfie sambil memegang Kartu Tanda Penduduk (KTP) kerap menjadi prosedur standar saat pengguna mendaftar pada berbagai layanan digital, baik di sektor keuangan maupun non-keuangan.

Namun, perusahaan keamanan digital Kaspersky baru-baru ini menyoroti bahwa metode verifikasi digital yang melibatkan foto identitas ini justru menimbulkan dilema keamanan yang signifikan bagi masyarakat.

Risiko utama terletak pada kurangnya transparansi mengenai bagaimana perusahaan menyimpan dan memproses data biometrik dan identitas yang mereka kumpulkan dari pengguna.

Meskipun perusahaan meyakinkan bahwa pengelolaan data dilakukan dengan sangat hati-hati dan serius, penjelasan tersebut dinilai belum cukup merinci proses internal yang sebenarnya terjadi.

Foto selfie dengan kartu identitas dianggap sebagai data kunci yang sangat berharga dan rentan disalahgunakan oleh oknum penjahat siber untuk tujuan ilegal.

Penyalahgunaan data ini bisa mencakup pembukaan perusahaan fiktif atas nama pemegang KTP untuk melakukan transaksi keuangan yang tidak bertanggung jawab.

Selain itu, identitas yang dicuri juga dapat digunakan untuk mendaftarkan kartu SIM demi melanggar hukum, di mana korban berpotensi dimintai pertanggungjawaban atas kerugian yang bukan disebabkan oleh dirinya sendiri.

"Penjahat siber telah lama menjual serangkaian foto dan video orang yang memegang lembaran kertas putih seukuran dokumen standar di situs darkweb untuk memalsukan foto dan melewati standar prosedur KYC (Know Your Customer). Apabila mereka mendapatkan foto selfie asli dengan kartu identitas [paspor atau KTP]. Itu adalah tambang emas," menurut Kaspersky dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (25/1/2025).

Dilansir dari Kaspersky, meskipun risiko tersebut ada, pengguna tetap dapat melanjutkan proses verifikasi dengan mengambil langkah pencegahan ekstra untuk meminimalisir potensi bahaya.