JAKARTAHYPE.COM - Sebuah kasus hukum yang menarik perhatian publik terjadi di Rusia, melibatkan seorang warga negara Uzbekistan yang harus menghadapi konsekuensi deportasi. Tindakan ini dipicu oleh unggahan ulasan produk pada salah satu platform belanja daring ternama di negara tersebut.

Pria yang diidentifikasi bernama Islomjon tersebut harus meninggalkan Rusia setelah otoritas setempat menilai unggahannya melanggar regulasi ketat mengenai propaganda LGBT yang berlaku di sana. Keputusan ini merupakan hasil dari putusan pengadilan di wilayah Tula, Rusia Tengah.

Peristiwa ini berpusat pada ulasan yang diunggah Islomjon pada bulan September 2025. Ulasan tersebut dibuat untuk sebuah produk rok kulit wanita di platform e-commerce Wildberries.

Dalam ulasannya, Islomjon menuliskan kalimat yang kini menjadi sorotan utama pihak berwenang setempat. Ia menyatakan, "Rok kecil cantik bukan hanya menyembunyikan kekurangan bentuk tubuh saya tapi juga fakta bahwa saya si pemakai adalah pria," kata Islomjon.

Pengadilan menafsirkan unggahan tersebut sebagai bentuk promosi terhadap ketertarikan pada orientasi seksual yang dianggap non-tradisional oleh hukum Rusia. Hal ini menjadi dasar utama yang memberatkan posisi hukum Islomjon di hadapan otoritas setempat.

Dilansir dari Oddity Central, Islomjon sendiri telah menyatakan pengakuannya bersalah di persidangan. Ia sempat memohon agar pihak berwenang tidak menjatuhkan hukuman deportasi kepadanya.

Dokumen pengadilan mengindikasikan bahwa ulasan kontroversial tersebut telah dihapus dari laman e-commerce tersebut. Meskipun demikian, ancaman hukuman deportasi tetap diberlakukan terhadap Islomjon.

Penahanan Islomjon sendiri dimulai pada tanggal 23 April 2026, di mana ia menjalani hukuman penahanan administratif selama lima hari. Setelah itu, ia dipindahkan ke pusat detensi khusus bagi warga negara asing di Kimovska.

Saat ini, Islomjon menghadapi potensi penahanan administratif hingga 90 hari ke depan sembari menunggu seluruh proses deportasinya rampung dilaksanakan. Pihak berwenang Rusia juga tengah menyelidiki tuduhan tambahan terkait propaganda LGBT.