JAKARTAHYPE.COM - Fenomena menarik tengah terjadi di era digital, di mana banyak individu kini mengalihkan pencarian saran kesehatan mereka dari dokter profesional di dunia nyata menuju influencer di media sosial. Perubahan perilaku ini menjadi sorotan utama dalam sebuah studi terbaru yang menganalisis tren konsultasi kesehatan daring.

Temuan mengejutkan ini berasal dari riset yang dilakukan oleh Pew Research Center di Amerika Serikat (AS). Penelitian tersebut mengidentifikasi sebanyak 6.828 individu yang memiliki pengikut minimal 100 ribu di platform populer seperti YouTube, TikTok, atau Instagram, yang secara rutin membagikan tips kesehatan dan kebugaran.

Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa hampir separuh populasi dewasa di AS, khususnya mereka yang berusia di bawah 50 tahun, kini mengandalkan informasi kesehatan dan kebugaran yang dibagikan oleh influencer media sosial atau melalui podcast. Secara spesifik, "4 dari 10 masyarakat dewasa di AS, dan setengah di bawah usia 50 tahun, mendapatkan informasi kesehatan dan kebugaran dari influencer media sosial atau podcast," menurut temuan studi tersebut.

Laporan yang sama juga mengungkap motivasi utama di balik tren ini, di mana mayoritas responden mencari sumber informasi digital untuk mendorong perubahan positif dalam hidup mereka. Sebanyak 41% warga AS memiliki dorongan kuat untuk "mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat," menjadi pendorong utama mereka mencari konten kesehatan secara daring.

Selain itu, faktor hiburan juga memainkan peran penting, terutama bagi generasi muda. "Sepertiga masyarakat berusia 18-29 tahun mencari informasi kesehatan sebagai konten hiburan," disimpulkan dalam studi tersebut.

Menariknya, paparan terhadap informasi kesehatan ini seringkali tidak disengaja, melainkan didorong oleh sistem rekomendasi platform. Sebagian besar responden mengaku terpapar konten tersebut melalui algoritma yang bekerja di media sosial, bukan karena secara aktif mencarinya.

Studi ini juga membandingkan informasi yang disampaikan oleh influencer dengan yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan profesional, menunjukkan adanya perbedaan persepsi di mata audiens. "Sebanyak 1 dari 5 orang mengatakan informasinya berbeda dan sekitar 38% mengatakan tidak terlalu berbeda antara keduanya," ungkap temuan riset mengenai perbedaan persepsi tersebut.

Platform visual mendominasi penyebaran informasi kesehatan ini, dengan mayoritas influencer aktif di ranah gambar atau video. Data menunjukkan bahwa Instagram menjadi platform teratas (86%), diikuti oleh TikTok (62%) dan YouTube (45%) sebagai kanal utama penyebaran konten kebugaran.

Mengenai kredibilitas, sekitar 41% influencer kesehatan dan kebugaran mencantumkan profesi perawatan kesehatan dalam profil mereka, meliputi dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, hingga psikiater. Namun, ada pula yang berasal dari latar belakang berbeda, seperti pelatih kebugaran (31%) dan pengusaha (28%).