JAKARTAHYPE.COM - Perayaan Hari Raya Waisak selalu menjadi sorotan utama di Indonesia, khususnya yang terpusat di kompleks Candi Borobudur, Magelang. Momen sakral ini tidak hanya dirayakan oleh umat Buddha, tetapi juga menarik perhatian masyarakat luas sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa.
Salah satu aturan penting yang harus dipatuhi oleh setiap wisatawan dan umat yang ingin menyaksikan kemeriahan acara adalah kewajiban untuk mengenakan pakaian serba putih. Aturan ini menjadi pembeda utama dalam rangkaian perayaan akbar tersebut.
Waisak di Candi Borobudur ditetapkan sebagai perayaan Hari Raya Waisak Nasional dan dikenal sebagai salah satu momen spiritual terbesar bagi komunitas Buddha di Indonesia. Selain aspek keagamaan, acara ini juga dikemas sebagai daya tarik wisata budaya kelas dunia.
Pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) beserta dinas terkait memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan kegiatan ini. Dukungan tersebut merupakan manifestasi nyata dari komitmen terhadap moderasi beragama dan penguatan harmoni sosial di masyarakat.
Puncak dari keseluruhan rangkaian acara yang paling dinantikan oleh semua pihak, baik umat maupun wisatawan, adalah Festival Lampion atau yang secara simbolis dikenal sebagai Lentera Perdamaian. Festival ini menyajikan pemandangan visual yang memukau pada malam hari.
Kewajiban mengenakan busana serba putih saat menyaksikan Festival Lampion memiliki makna mendalam yang terkait dengan kesucian dan niat tulus dalam mengikuti rangkaian perayaan. Warna putih melambangkan kesucian batin yang harus dipersiapkan sebelum mengikuti ritual penting.
"Perayaan Hari Raya Waisak Nasional di Candi Borobudur merupakan momen spiritual terbesar bagi umat Buddha di Indonesia yang juga dikemas sebagai daya tarik budaya dunia," demikian disarikan mengenai pentingnya acara tersebut.
Selain itu, dukungan pemerintah juga menegaskan peran Borobudur sebagai wadah persatuan. "Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) dan dinas terkait senantiasa mendukung perayaan ini sebagai wujud nyata moderasi beragama dan ruang harmoni sosial," jelas sumber terkait penyelenggaraan ini.
Momen pelepasan lampion menjadi penutup yang indah, di mana setiap cahaya yang terbang ke angkasa diyakini membawa doa dan harapan perdamaian. Hal ini menegaskan bahwa acara ini lebih dari sekadar tontonan visual semata.