JAKARTAHYPE.COM - Kondisi sulit tengah dialami oleh masyarakat di Dusun Gili Meno yang telah memasuki tahun ketiga menghadapi kelangkaan pasokan air bersih yang memadai. Situasi darurat ini memaksa warga untuk mencari solusi alternatif demi memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari.

Kebutuhan vital akan air bersih telah mendorong warga untuk mengeluarkan biaya operasional yang sangat besar setiap bulannya. Mereka terpaksa merogoh kocek hingga jutaan rupiah hanya untuk mendapatkan pasokan air minum dalam kemasan galon.

Warga Gili Meno bergantung sepenuhnya pada air isi ulang kemasan galon sebagai solusi sementara atas krisis yang melanda kawasan mereka. Ketergantungan ini menciptakan beban finansial yang signifikan bagi setiap rumah tangga di dusun tersebut.

Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, membenarkan besarnya pengeluaran yang harus ditanggung oleh warganya. Hal ini menjadi indikasi nyata betapa seriusnya masalah ketersediaan air bersih di wilayah tersebut.

"Dalam satu bulan, rata-rata warga di Gili Meno menghabiskan Rp 2 juta hingga Rp 3 juta hanya untuk membeli air galon," ungkap Kepala Dusun Gili Meno, Masrun, saat ditemui di kantor Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) NTB, Jumat (19/6/2026).

Keterangan tersebut disampaikan Masrun ketika ia tengah berdiskusi dengan pihak Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nusa Tenggara Barat (NTB). Pertemuan ini bertujuan untuk membahas solusi permanen atas krisis air yang telah berlangsung lama.

Krisis air bersih ini merupakan masalah yang berlangsung secara berkelanjutan, menandakan bahwa upaya mitigasi jangka pendek yang dilakukan warga belum mampu mengatasi akar permasalahannya. Masyarakat sangat membutuhkan intervensi serius dari pihak terkait.

Kondisi ini menunjukkan bahwa akses terhadap air bersih, yang merupakan hak dasar, kini harus dibeli dengan harga yang sangat mahal bagi penduduk Gili Meno. Pengeluaran jutaan rupiah tersebut jelas mengganggu stabilitas ekonomi rumah tangga mereka.

Dilansir dari sumber berita yang meliput pertemuan tersebut, situasi ini menyoroti kerentanan infrastruktur air di wilayah kepulauan tersebut. Warga berharap adanya perhatian lebih agar mereka tidak lagi terpaksa mengeluarkan biaya fantastis ini.