JAKARTAHYPE.COM - Penurunan daya ingat atau yang sering disebut pikun, umumnya dikaitkan erat dengan proses penuaan alami yang dialami manusia. Namun, penelitian terbaru berhasil mengungkap bahwa faktor usia hanyalah sebagian kecil dari penyebab utama kondisi ini. Fokus kini beralih pada perubahan spesifik yang terjadi pada tingkat molekuler di dalam otak.
Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Virginia Tech ini menjadi penemuan signifikan yang mengarahkan pemahaman kita mengenai mekanisme hilangnya memori. Mereka menemukan korelasi kuat antara penurunan fungsi kognitif dengan proses molekuler tertentu yang kini dapat dijadikan target potensial untuk pengembangan terapi di masa depan.
Timothy Jarome, profesor madya di Fakultas Ilmu Hewan, Pertanian dan Ilmu Hayati, menjelaskan implikasi temuan ini. "Penelitian ini menunjukkan penurunan ingatan terkait dengan perubahan molekuler spesifik yang bisa dipelajari dan ditargetkan," ujar Timothy Jarome, dikutip dari ScienceDaily, Sabtu (2/5/2026).
Pemahaman mendalam mengenai pemicu di tingkat molekuler ini dinilai krusial oleh para ilmuwan. Hal tersebut diharapkan dapat membuka jalan baru dalam mengungkap penyebab pasti demensia dan memfasilitasi pengembangan pendekatan pengobatan yang lebih efektif dan inovatif.
Salah satu proses molekuler yang disorot dalam penelitian ini adalah poliubikuitinasi K63. Proses ini memiliki fungsi vital dalam mengatur bagaimana protein berperilaku dan berinteraksi di dalam sel-sel otak.
Ketika proses poliubikuitinasi K63 berjalan sebagaimana mestinya, komunikasi antar neuron dapat berlangsung lancar dan proses pembentukan memori dapat berjalan secara optimal. Ini merupakan fondasi bagi fungsi kognitif yang sehat.
Namun, seiring bertambahnya usia, terjadi perubahan aktivitas di area otak tertentu; aktivitas di hipokampus, yang merupakan pusat memori, justru meningkat, sementara aktivitas di amigdala, yang mengurus memori emosional, dilaporkan menurun. Pergeseran aktivitas ini diduga menjadi salah satu akar masalah utama gangguan memori.
Untuk menguji hipotesis ini, para peneliti memanfaatkan teknologi penyuntingan gen mutakhir, termasuk CRISPR, guna mengatur ulang proses molekuler yang teridentifikasi tersebut.
Hasil dari intervensi ini sangat menjanjikan, di mana penyesuaian yang dilakukan pada hipokampus dan amigdala berhasil meningkatkan kinerja memori dan menunjukkan perbaikan signifikan pada fungsi ingatan subjek penelitian.