JAKARTAHYPE.COM - Setelah melalui fase pembakaran dana yang signifikan, raksasa kecerdasan buatan OpenAI kini menunjukkan hasil monetisasi yang memuaskan dari produk andalannya, ChatGPT. Perusahaan tersebut dilaporkan telah meraup keuntungan substansial hanya dalam waktu singkat setelah peluncuran uji coba iklan.
Pendapatan yang berhasil dikumpulkan OpenAI diperkirakan mencapai US$100 juta, setara dengan sekitar Rp1,6 triliun. Angka fantastis ini berhasil dicapai dalam kurun waktu kurang dari satu bulan sejak program iklan tersebut resmi diluncurkan di pasar Amerika Serikat (AS).
Keberhasilan ini didukung oleh kolaborasi erat dengan banyak pihak, sebagaimana dijelaskan oleh juru bicara perusahaan. "Iklan ini hasil kerja sama dengan lebih dari 600 pengiklan," ungkap juru bicara tersebut, dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (31/3/2026).
Menariknya, meskipun ada kekhawatiran umum mengenai isu privasi, OpenAI mengklaim belum mendeteksi adanya dampak negatif signifikan terhadap kepercayaan pengguna. "Perusahaan disebut belum melihat dampak apapun mengenai kepercayaan terkait privasi," tambah juru bicara, dilansir dari CNBC Internasional, Selasa (31/3/2026).
Terkait frekuensi penayangan iklan, data menunjukkan bahwa mayoritas pengguna uji coba tidak terpapar iklan setiap hari. "Kurang dari 20% mereka yang masuk dalam uji coba melihat iklan setiap hari," jelas juru bicara tersebut.
OpenAI kini mulai memperluas cakupan uji coba ini ke luar pasar domestik AS, menunjukkan optimisme terhadap model bisnis baru ini. Program percontohan iklan tersebut kini mulai dibuka untuk pengguna yang berada di Kanada, Australia, dan Selandia Baru, meskipun detail rencana ekspansi lebih lanjut belum diumumkan.
Inisiatif penayangan iklan ini telah diumumkan sejak awal tahun, dan ditujukan untuk pengguna baik versi gratis maupun pelanggan berbayar ChatGPT Go di AS. Iklan tersebut dirancang untuk muncul secara non-intrusif di bagian paling bawah antarmuka chatbot.
OpenAI telah menetapkan batasan ketat untuk memastikan pengalaman pengguna tetap berkualitas dan aman. "Mulai dari pengguna di bawah 18 tahun tidak bisa melihat iklan, dan tidak akan muncul untuk topik seperti politik, kesehatan dan kesehatan mental," jelas keterangan resmi perusahaan.
Meskipun data awal menunjukkan kesuksesan finansial, beberapa pengiklan mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap implementasi awal ini. "Menurut mereka, peluncuran uji coba dirasa lambat dan konservatif," bunyi laporan tersebut.